Jumat, 12 April 2013

PATOGEN SERANGGA HAMA




PENGERTIAN MUSUH ALAMI
Musuh Alami adalah Suatu mahluk hidup (organisme > Predator, Parasitoid dan Patogen) yang dapat mengendalikan hama penyakit dan gulma (OPT)

AGENS ANTAGONIS :
Adalah Mikroorganisme yang mengintervensi/menghambat pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan


PENGENDALIAN ALAMI (Natural Control) :
Adalah Proses pengendalian OPT yang berjalan sendiri tanpa ada kesengajaay yang dilakukan oleh manusia

PENGENDALIAN HAYATI (Biological Control) :
Merupakan taktik pengelolaan hama secara sengaja dengan memanfaatkan atau memanipulasi musuh alami/agens hayati untuk menekan atau mengendalikan OPT

CARA KERJA MUSUH ALAMI (AGENS HAYATI)
Predator :
> Memakan mangsanya secara langsung

Parasitoid :
> Meletakan telur pada tubuh hewan sasaran, kemudian setelah menetas larvanya menghisap cairan tubuh hewan sasaran tersebut hingga mati

Patogen :
> Jamur tersebut masuk kedalam tubuh serangga melalui kulit diantara ruas-ruas tubuh
> Mekanisme penetrasinya dimulai dengan pertumbuhan spora pada kutikala
> Didalam tubuh serangga hifa berkembang dan selanjutnya memasuki pembuluh darah, melalui beberapa proses lebih lanjut di dalam tubuh menyebabkan kematian serangga

PATOGEN SERANGGA HAMA
Seperti manusia dan binatang, serangga juga bisa kena penyakit. Penyakit serangga bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk mengendalikan banyak jenis hama. Penyakit disebabkan oleh organisme patogen. Patogen adalah kategori ketiga musuh alami, disamping Predator dan Parasitoid.
Banyak jenis patogen menyerang serangga. Ada patogen tertentu yang bersifat khusus, berarti patogen itu menyerang hanya satu jenis serangga. Ada juga patogen yang bersifat umum, yang dapat menyerang banyak jenis serangga. Ada banyak jenis patogen, di antaranya jamur (fungi), virus, bakteri, protozoa dan nematoda.

MACAM MACAM PATOGEN SERANGGA HAMA

Jamur Beauveria bassiana (Bb) ( WHITE MUSCARDINE FUNGUS )
Beauveria bassiana, Kelas Hyphomycetes
Jamur Beauveria bassiana menyerang banyak jenis serangga, di antaranya kumbang, ngengat, ulat, kepik dan belalang. Jamur ini umumnya ditemukan pada serangga yang hidup di dalam tanah, tetapi juga mampu menyerang serangga
pada tanaman atau pohon. Memang ada jenis Bb yang menyerang hama tertentu. Misalnya, Bb GB 1 menyerang Helopeltis pada tanaman teh dan dianjurkan untuk mengendalikannya. Jamur Beauveria bassiana berwarna putih , dan biasanya cukup kelihatan pada badan inangnya. Jika dilihat dengan kaca pembesar, spora jamur ini ternyata tumbuh berkelompok, sehingga berupa bola-bola spora.
Daur hidup
Jamur Beauveria bassiana tumbuh pada serangga, kemudian membuat spora (semacam biji). Spora lepas dari jamur dan dibawa angin atau air ke tempat lain. Jika spora kena serangga, bisa tumbuh menjadi jamur lagi.


Gambar Serangga yang diserang oleh Jamur Beauveria bassiana


Jamur Trichoderma ( TRICHODERMA FUNGUS )
Trichoderma koningii, T. harzianum dan T. viride, Kelas Hyphomycetes
Jamur Trichoderma telah banyak dikembangkan untuk pengendalian penyakit jamur akar. Trichoderma koningii umumnya dapat diisolasi dari tanah yang diambil di lapangan, sehingga dapat dikembangkan dan digunakan pada tempat itu juga.
Spora jamur ini sangat cepat berkembang pada suhu 22-230 C. Kumpulan spora Trichoderma mulanya berwarna putih
jernih kemudian menjadi kehijauan dan akhirnya berwarna hijau gelap. Trichoderma tidak mematikan secara
langsung jamur penyebab penyakit tetapi mengusir dari tanah sekitarnya. Hal ini terjadi karena pertumbuhan spora
Trichoderma lebih cepat dibandingkan pertumbuhan spora jamur penyebab penyakit. Jamur Trichoderma lebih
efektif digunakan untuk pencegahan penyebaran penyakit pada tanaman teh yang berada disekitar tanaman yang
sudah terserang berat atau mati akibat jamur.

Kamis, 11 April 2013

DIAGNOSIS PENYAKIT TUMBUHAN




Definisi Penyakit Tumbuhan Definisi Penyakit TumbuhanKondisi dimana  sel  &  jaringan  tanaman  tidak  berfungsi  secara normal,  yang  ditimbulkan   karena  gangguan  secara   terus  menerus oleh   agen patogenik atau   faktor  lingkungan (abiotik) dan   menimbulkan  gejala tertentu.
Istilah diagnosis banyak digunakan baik pada dunia kedokteran manusia, hewan, maupun dalam dunia penyakit tumbuhan. Diagnosis merupakan proses identifikasi penyakit, sehingga ditemukan nama penyakitnya. Identifikasi dapat dilakukan terhadap gejala yang timbul maupun terhadap penyebab penyakit. Diagnosis merupakan sebuah proses, yang berarti membutuhkan waktu. Penyakit-penyakit yang pernah dilaporkan dalam pustaka, relatif mudah dan cepat dalam diagnosis. Penyakit-penyakit yang belum pernah dilaporkan dalam pustaka relatif sulit dan proses diagnosisnya memerlukan waktu yang lama. Hal ini disebabkan karena harus dilakukannya postulat Koch.

Pentingnya DiagnosisDiagnosis merupakan proses yang sangat penting. Hasil diagnosis akan menentukan keberhasilan suatu pengelolaan penyakit tanaman. Kegagalan suatu diagnosis akan menyebabkan kegagalan dalam tahap pengendalian. Sebagai contah klasik dikemukakan oleh Fry (1982) pada pertanaman bit gula dipinggiran kota New York terjadi masalah kekerdilan tanaman. Dugaan awal kekerdilan tersebut disebabkan oleh karena kekurangan hara. Namun ternyata aplikasi pemupukan tidak menyelesaikan masalah. Konsultasi dengan ahli penyakit tanaman menyimpulkan bahwa tanaman terserang oleh nematoda Heterodera schachtii. Dengan demikian diagnosis yang baik harus memiliki efektivitas yang tinggi. Disamping itu diagnosis juga harus cepat. Keterlambatan hasil diagnosis karena berbagai hal dapat menyebabkan penyakit sudah berkembang pesat, sehingga hasil tidak dapat diselamatkan. Disamping efektif dan cepat, diagnosis juga harus murah. Biaya diagnosis yang mahal tidak akan terjangkau oleh petani kecil, sehingga mereka enggan pergi ke klinik untuk memeriksakan tanaman.

Postulat KochDalam Postulat Koch dijelaskan bahwa mikroorganisme dikatakan sebagai penyebab penyakit bila memenuhi kriteria berikut
(1) mikroorganisme penyebab penyakit selalu berasosiasi dengan gejala penyakit yang bersangkutan,
(2) mikroorganisme penyebab penyakit harus dapat diisolasi pada media buatan secar murni,
(3) mikroorganisme penyebab penyakit hasil isolasi harus dapat menimbulkan gejala yang sama dengan gejala penyakitnya, apabila diinokulasikan, dan
(4) mikroorganisme penyebab penyakit harus dapat direisolasi dari gejala yang timbul hasil lnokulasi.
Postulat Koch ini oleh Smith (1906) dimodifikasi, untuk parasit obligat, tidak perlu pada media buatan, tetapi harus dapat dibiakkan secara murni sekalipun pada inang.

Metode IlmiahSalah satu kelemahan Postulat Koch adalah sering memerlukan waktu yang sangat lama, sehingga cara ini lebih banyak dipakai untuk penyakit-penyakit yang belum pernah dilaporkan dalam pustaka. Penyakit-penyakit yang pernah dilaporkan dalam pustaka akan lebih praktis apabila menggunakan metode lain. Fry (1982) menggunakan metode ilmiah dalam melakukan diagnosis.

ObservasiTidak seperti pada penyakit manusia, orang satu persatu mendatangi dokter untuk didiagnosis, tetapi petani pemilik yang harus aktif. Di negara-negara yang pertaniannya kurang maju bahkan petugas pemerintah yang harus aktif. Pada penyakit tanaman yang harus diperhatikan tidak per individu, tetapi dalam populasi. Pada umumnya petani/petugas memeriksakan tanamannya kalau menunjukkan gejala yang khas. Namun perlu dibiasakan pemeriksaan dilakukan berdasarkan hasil yang diperoleh, apakah terjadi kehilangan hasil. Dengan demikian perlu dilakukan observasi yang mendalam, tidak hanya terhadap gejala pada tanaman, tetapi juga pada cuaca, media tanah dan hara, air dan bahan kimia yang dipaka, serta cara budidaya (form 1). Dari observasi akan dapat diketahui apa yang menjadi persoalan, apa yang menjadi pertanyaan. Mengapa tanaman ini banyak yang kerdil, mengapa tanaman itu banyak yang layu? Juga bisa menjadi pertanyaan mengapa komoditas ini produksinya rendah? Dalam pengelolaan penyakit tanaman yang baik persoalan yang menjadi kunci rendahnya produksi harus dapat diketahui. Dalam banyak hal yang menyebabkan rendahnya produksi tidak hanya penyakit tertentu, tetapi beberapa penyakit. Sebagai contoh hasil observasi adalah menemukan masalah tanaman tomat mengalami kelayuan. Pertanyaan yang timbul adalah mengapa tanaman tomat mengalami kelayuan?

HipotesisDari pertanyaan mengapa tanaman tomat mengalami kelayuan tentu tanpa memandang fakta yang ada akan terdapat banyak jawaban sementara yang disebut hipotesis. Tetapi dengan menggunakan fakta yang ada setiap hipotesis secara langsung dapat diuji kebenarannya. Hipotesis tanaman tomat layu karena kekurangan air dapat ditolak secara langsung karena fakta yang ada menunjukkan musim penghujan. Dengan demikian akhirnya hanya akan ada satu jawaban sementara yang spesifik. Jawaban sementara inilah yang perlu diuji kebenarannya dengan melakukan analisis. Dari contoh dapat ditarik hipotesis tanaman tomat layu karena terserang oleh jamur F. oxysporum f.sp. lycopersici.

Pengujian Hipotesis/AnalisisAnalisis yang dilakukan didasarkan pada pustaka. Dalam pustaka ada dua hal yang penting perlu dibuktikan kebenarannya yaitu gejala dan tanda. Dalam hal tertentu untuk gejala yang khas hanya dimiliki oleh penyakit tertentu, maka kehadiran patogen tidak diperlukan. Namun dalam banyak kasus, beberapa penyakit memiliki gejala yang sama, sehingga kehadiran patogen diperlukan. Pada hipotesis tanaman tomat layu karena terserang oleh jamur F. oxysporum f.sp. lycopersici, tentu yang perlu hadir adala gejala layu dan jamur tersebut.

Hipotesis Diterima atau DirevisiHipotesis diterima kalau yang ada adalah, baik gejala layu maupun F. oxysporum f.sp. lycopersici. Kalau ternyata jamur tidak ditemukan maka hipotesis tersebut harus ditolak dan selanjutnya perlu dilakukan revisi berdasarkan fakta baru yang muncul. Hipotesis yang baru kemudian diuji kembali sampai diperoleh hipotesis yang diterima. Hipotesis yang diterima selanjutnya menjadi hasil diagnosis.

GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN :
Merupakan respon dari tumbuhan terhadap infeksi (yang bisa diukur),  misalnya respirasi yang meningkat, fotosintesis menurun, dst  Penyakit tertentu dapat dibedakan dengan penyakit lain berdasarkan gejala. Gejala juga dapat berbeda bergantung pada lingkungan,  varietas dari inang dan ras patogen. Gejala selalu berubah dengan berkembangnya penyakit karena penyakit adalah  suatu  proses yang  dinamik. Sindrom adalah urutan atau seri dari gejala penyakit.

Gejala KhasGejala khas banyak ditemukan pada patogen tertentu. Jamur Colletotrichum spp. pda umumnya menyebabkan gejala antraknosa dan Alternaria spp. menyebabkan gejala bercak target.

PENGAMATAN GEJALA PENYAKIT DAPAT DIBEDAKAN MENJADI DUA YAITU1. Gejala primer : Gejala yang timbul segera dan langsung tampak. Pada umumnya penyebab penyakit sangat dekat dengan jaringan tanaman yang rusak.
2. Gejala Skunder : Gejala yang timbul jauh dari jaringan tanaman yang diserang. Gerjala Skunder muncul sebagai akibat dari serangan gejala primer.
Misalnya penyakit busuk akar dan busuk batang pada kacang tanah yang disebabkan oleh tanah yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii : Busuk akar & batang merupakan gejala primer merupakan gejala primer Layu daun merupakan gejala sekunder. Disini Fungi Sclerotium rolfsii menyerang akar dan leher batang tanaman sehingga bagian tanaman yang diserang ( Akar dan leher batang ) menjadi rusak ini adalah gejala primer. Sebagai akibat dari kerusakan akar dan leher batang tanaman tanaman menjadi layu. Kelayuan ini yang disebut gejala skunder.

Bagaimana memahami pengertian tanda, pengertian gejala, tipe gejala, dan mekanisme timbulnya gejala Penyakit Pada Tumbuhan

A. Gejala Penyakit 
Kelainan/penyimpangan dari keadaan normal tanaman akibat adanya gangguan penyebab penyakit, dan gejala dapat dilihat dengan mata telanjang. 
Berdasarkan sifatnya, ada 2 tipe gejala:
a). Gejala lokal -> Gejala yang dicirikan oleh perubahan struktur yang jelas dan terbatas. Biasanya dalam bentuk bercak  atau kanker.gejalanya terbatas pada bagian-bagian tertentu dari tanaman (pada daun, buah, akar)
  bercak daun disertai dengan hallo

b). Gejala sistemik -> Kondisi serangan penyakit yang lebih luas, bisanya tidak jelas batas batasnya. Contohnya adalah serangan oleh virus mosaic, belang maupun layu.gejalanya terdapat di seluruh tubuh tanaman (layu, kerdil)
Tanaman layu      Belang daun


BERDASARKAN BENTUKNYA GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN DIBAGI MENJADI GEJALA MORFOLOGI & GEJALA HISTOLOGIA. Gejala Morfologi : gejala luar yang dapat dilihat & dapat diketahui melalui bau diketahui melalui bau, rasa dan raba; dapat ditunjukkan oleh dapat ditunjukkan oleh seluruh tumbuhan atau tiap organ dari  dari tumbuhan.
B. Gejala Histologi : gejala yang hanya gejala yang hanya dapat diketahui lewat pemeriksaan pemeriksaan mikroskopis dari jaringan yang sakit jaringan yang sakit. 

Gejala histologi dapat dibedakan menjadi 3 tipe gejala:yaitu nekrosis,  hipoplasia dan hiperplasia.
1. Gejala nekrotik  
: gejala  penyakit yang  ditandai dengan degenerasi protoplas diikuti dengan  matinya sel sel, jaringan, organ & seluruh  tumbuhan.(bercak, bintik, noda, hawar)
        a. Gejala plesionekrotik : gejala nekrotik yang diekspresikan sebelum terjadi kematian protoplas
        b. Gejala holonekrotik  :gejala nekrotik yang diekspresikan sesudah protoplas mati, misalnya busuk  umbi,  busuk             biji,  dan  rebah  kecambah.

2. Gejala hipoplasia  : gejala timbul karena adanya hambatan atau kegagalan dari  tanaman/organ untuk berkembang secara penuh.   Gejala umum dari hipoplasia yaitu ukuran dibawah  normal dan warna yang pucat, misalnya kerdil , roset,  mosaik,  albinasi.

3. Gejala hiperplasia : gejala yang timbul karena  hasil  pertumbuhan  yang luar biasa ukuran atau perkembangan dini yang abnormal dari organ tumbuhan misalnya keriting, membengkoknya tajuk atau menggulungnya daun karena pertumbuhan yang berlangsung pada satu sisi, puru, kudis
Contoh gejala Nekrosa
Bercak daun -> lesio setempat karena kerusakan/kematian sel (berwarna coklat, hitam atau abu-abu keputihan)
Bentuk bercak: bulat, lonjong, bintik garis-garis, bilur, lingkaran-lingkaran sepusat (bercak papan sasaran)
Kadang-kadang bercak dikelilingi oleh jalur klorotik/kuning yang disebut halo (kalang)
Hawar -> perubahan warna dan mengering serta meluas dengan cepat pada daun, tunas, dahan, ranting, bunga dan lai-lain
 Hawar daun

Kanker -> luka setempat, mengering dan cekung yang dikelilingi kalus pada kulit batang, cabang, dahan dan akar (umumnya pada tanaman berkayu)
Kanker leher batang  Kanker batang

Mati ujung/pucuk (Dieback) -> kematian secara intensif pada ranting dan cabang yang dimulai dari ujung-ujungnya menuju ke pangkal-pangkalnya. 

Busuk akar/pangkal batang -> Disintegrasi/pembusukan pada sistem perakaran/pangkal batang
Rebah kecambah (Damping-off) ->Kematian sangat cepat pada kecambah yang sangat muda di pesemaian (umumnya akibat serangan jamur tular tanah) 

 Rebah kecambah ( Damping off )

Bila kecambah mati setelah muncul di permukaan tanah disebut rebah kecambah pasca tumbuh
Bila kecambah mati sebelum uncul dipermukaan tanah disebut rebah kecambah pratumbuh 
Klorosis -> Kerusakan/kematian kloroplas menyebabkan warna hijau berubah warna kuning

 Gambar klorosis


Contoh-contoh gejala hiperplasia
Akar gada -> pembesaran pada bagian-bagian tertentu dari akar akibat terjadinya bintil-bintil yang saling menyatu (penyakit akar gada pada akar kubis oleh jamur Plasmodiophora brassicae )
Kelenjar (galls) -> pembengkakan setempat berupa bisul-bisul atau bintil-bintil pada batang, ranting atau daun (penyakit kelenjar pada batang tanaman berupa matahari/crown galls oleh bakteri Agrobacterium tumefaciens ) 

Akar Gada (Plasmodiphora brassicae) Gall (Agrobacterium tumefaciens)
  ( Puru Akar )
Sapu setan (Witches’s broom) -> timbulnya banyak tunas tidur pada ketiak sehingga merupakan ranting-ranting yang rapat seperti sapu 

 
Sapu setan pada kacang tanah

Kutil (Warts) -> kutil-kutil yang menonjol (jendul) pada akar-akar umbi
Contoh-contoh gejala hipoplasia
Kerdil (atropi/stunt) -> terhambatnya pertumbuhan pada bagian-bagian tumbuhan (bagian-bagian tersebut ukurannya lebih kecil dari biasanya)
Katai (dwarf) -> ukuran seluruh tanaman mengecil tanpa perubahan proporsi dari bagian-bagian tumbuhan
Klorosis -> tidak tebentuk/kurang berkembangnya klorofil sehingga daun-daun menjadi kuning atau terjadi mosaik dengan warna campuran hijau, hijau muda, kuning agak putih (penyakit-penyakit virus) 

 Gambar mosaik

Vein banding -> bila pada daun hanya bagian-bagian sekitar tulang daun yang berwarna hijau
Vein clearing -> bila hanya bagian-bagian daun di sekitar tulang daun yang menguning
Etiolasi -> bila tumbuhan kekurangan cahaya, tumbuhan tumbuh memanjang (kurus) dengan daun-daun sempit dan pucat 
Penamaan penyakit tumbuhan
Nama umum penyakit banyak diberi nama sesuai dengan gejalanya -> penyakit karat, penyakit layu, penyakit kudis, penyakit kanker dan lain-lain 


B. Tanda Penyakit Semua struktur patogen yang terdapat pada permukaan tanaman yang dapat dilihat secara makroskopis (khusus pada penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri)
Tanda penyakit meliputi:
Miselia, kumpulan konidia dan konidiofor, sklerotia, basidiokarp dan lendir bakteri 
Contoh-contoh tanda penyakit
Misilea
Jamur Sclerotium rolfsii pada kacang-kacangan (kacang tanah) membentuk miselia seperti bulu/kapas putih pada permukaan akar, pangkal batang dan permukaan tanah seputar tumbuhan terinfeksi atau berupa anyaman miselia pada permukaan daun
 
busuk buah oleh fungiSklerotia 

Gumpalan/bulatan massa hifa yang menebal dan menempel pada batang atau pada permukaan tanah atau terapung di permukaan air di sekitar tumbuhan yang terinfeksi (sklerotia pada batang padi yang terserang jamur Rhizoctonia solani)
Basidiokarp
Pada serangan lanjut, jamur Ganoderma & Rigidoporus membentuk baidiokarp (berbentuk kipas tebal dan banyak pori-porinya) pada permukaan akar /pangkal batang tumbuhan berkayu
Kumpulan konidia dan konidiofor (pada penyakit karat/tepung) 

Kumpulan konidia dan konidiofor terlihat seperti karat atau tepung pada permukaan daun.
Penyakit karat pada daun jagung yang disebabkan oleh jamur Puccinia polysora
Penyakit embun tepung pada daun jagung (bulai ) yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis
Konidia dan konidiofor Puccinia polysora Konidia dan konidiofor Peronosclerospora maydis


Diagnosis Penyakit Tumbuhan
Diagnosis penyakit tanaman: untuk menentukan macamnya penyakit tanaman dengan tepat dan cermat

DIAGNOSIS Diagnosis penyakit tanaman didasarkan kepada Tanda: miselia, kumpulan konidia/konidiofor, sklerotia, lendir bakteri Gejala Luar Dalam Umumnya langsung dapat menentukan penyebab penyakit, sifat-sifat dan pengendaliannya
Alat bantu diagnosis penyakit tanaman menular : ? Loop ? Mikroskop ? Media biakan (untuk patogen non-obligat) ? Buku indeks penyakit tanaman ? Buku seri kompendium ? Buku-buku mikologi, bakteriologi, virologi dll . Diagnosis Penyakit menular (biotik) Penyakit tidak menular (abiotik)
  

busuk buah oleh bakteri
Diagnosis penyakit tanaman tidak menular dilakukan dengan cara berikut:
Memakai buku-buku manual/bergambar tentang gejala kekurangan/kelebihan unsur hara, cahaya, polusi dll.
Untuk kekurangan unsur hara dilakukan dengan analisa kimia tanah/tanaman
Meniru faktor lingkungan yang dicurigai sebagai penyebab penyakit
Penetuan patogen penyebab utama penyakit pada tanaman dilakukan dengan Postulat Koch.


Langkah-langkah Kerja Postulat Koch 
1. Patogen harus selalu didapatkan berasosiasi dengan tanaman yang sakit
2. Patogen dari tanaman sakit harus dapat diisolasi dan ditumbuhkan pada media biakan murni.
3. Patogen yang tumbuh pada biakan murni harus dapat direinokulasikan pada tanaman sejenis dan sehat, serta gejala yang timbul harus sama dengan tanaman sakit terdahulu (tanaman pada no.1)
4. Patogen pada tanaman sakit akibat reinokulasi harus dapat direisolasi dan dapat ditumbuhkan pada biakan murni. Patogen yang dapat tumbuh pada biakan murni ini harus memiliki karakteristik yang tepat sama dengan patogen pertama yang diisolasi.
Pengukuran penyakit tumbuhan
Berat-ringannya suatu penyakit pada tumbuhan dapat diukur dengan cara-cara sebagai berikut (sesuai kebutuhan)
1. Keterjadian penyakit (Disease incidence)
KP = A X 100 %
          ——————       
            A + B 
KP : Keterjadian Penyakit
A: Jumlah tumbuhan atau bagian tumbuhan yang sakit
B: Jumlah tumbuhan atau bagian tumbuhan yang sehat 
2. Keparahan Penyakit (Disease Severity)
n
S = S (?i x ?i)
i=0
N x Z x 100 %
Keterangan :
S: keparahan penyakit
?i: jumlah tanaman atau bagian tanaman dengan kategori ke-i
?i: skala kategori serangan ke-i, yaitu:
_________________________________________________________
Skala Skor penyakit *)
0 = tidak ada serangan
1 = 0 –25%       permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang
2 = >25 –50 %  permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang
3 = >50 –75%   permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang
4 = >75 –100% permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang
_________________________________________________________
N : jumlah seluruh tanaman atau bagian tanaman yang diamati
Z : nilai skala kategori serangan tertinggi.
*) : besarnya skor penyakit dapat dibuat sesuai kebutuhan
Kehilangan hasil (yield loss)
KH = P- Y x 100 %
P
KH : Kehilangan hasil
P : Potensi hasil sebenarnya
Y: Hasil yang didapat


Bagaimana Menemukan Kehadiran Patogen
Kehadiran patogen menjadi sesuatu yang sangat penting sebagai bukti. Kehadiran patogen dapat diketahui secara langsung dan tidak langsung. Patogen-patogen yang berukuran makroskopis di permukaan jaringan seperti badan buah jamur berukuran besar. Dalam beberapa hal diperlukan lup kecil untuk melihat kehadiran struktur patogen. Dalam banyak kasus patogen berukuran mikroskopis, sehingga untuk melihat kehadirannya mikroskop seperti kebanyakan jamur dan bakteri. Jamur dan bakteri sebelum dilihat dibawah mikroskop sering harus diisolasi terlebih dahulu. Virus dan viroid, kehadirannya dilihat dibawah mikroskop elektron. Dalam perkembangannya deteksi patogen memanfaatkan hasil penemuan pada berbagai bidang ilmu dasar sebagai contoh adalah serologi dan uji DNA

1. Langsung pada Permukaan TanamanBeberapa patogen yang makroskopis strukturnya dapat dilihat secara langsung pada permukaan tanaman. Golongn gulma seperti tali putri yang menginfeksi banyak tanaman pagar seperti teh-tehan; gulma setan yang menginfeksi tanaman jagung; dan benalu yang banyak menginfeksi pepohonan merupakan contah yang jelas. Beberapa jamur juga menampakan struktur makroskopis pada permukaan pangkal batang pohon yang diserang seperti jamur akar putih pada karet dan jamur lingsi pada pangkal batang kelapa sawit dan berbagai jenis pepohonan

2. Menggunakan Lup / Kaca PembesarBeberapa patogen seperti penyebab penyakit karat pada daun dengan cara langsung hanya akan terlihat sebagai tonjolan-tonjolan kecil pada permukaan daun. Pada pengamatan dengan menggunakan lup, maka strukturnya akan tampak lebih jelas. Dengan menggunakan lup struktur patogen dapat diperbesar 10X. Hal ini cukup membantu dalam melihat struktur badan buah yang berukuran kecil.

3. Menggunakan Mikroskop cahaya
Kebanyakan patogen berukuran sangat kecil sehingga untuk pengamatannya perlu bantuan mikroskop. Patogen dapat secara lngsung diambil dari permukaan inang kemudian dilihat di bawah mikroskop. Pada permukaan tanaman yang bergejala ditempeli dengan selotip berwarna bening kemudian dilihat di bawah mikroskop. Dalam banyak hal sering digunakan cairan supaya benda tampak lebih jelas. Pada gelas preparat diberi setetes air. Dengan menggunakan jarum yang runcing bagian yang bergejala dikorek-korek, hasil korekan diletakkan pada tetesan air dan ditutup dengan gelas preparat, kemudian diamati di bawah mikroskop. Sering untuk menemukan patogen, jaringan tanaman perlu diperlakukan secara khusus sehingga patogen dapat hadir. Kebanyakan patogen golongan jamur memerlukan kelembapan yang tinggi, untuk itu jaringan perlu dilembabkan terlebih dahulu, baru kemudian diambil struktur patogennya untuk diamati. Sering struktur yang dijumpai hanya misellium, untuk itu perlu digunakan vitamin atau mineral tertentu supaya jamur dapat membentuk struktur yang dikehendaki dalam diagnosis. Misellium jamur Phytophthora akan dapat membentuk sporangium apabila diletakkan dalam liset tanah.

Dalam banyak kasus, pada jringan yang bergejala sulit dijumpai, baik miselium maupun struktur lain. Apabila hal ini terjadi, maka diperlukan langkah isolasi. Isolasi perlu difahami merupakan langkah untuk mendapatkan struktur patogen secara murni. Dengan demikian apabila ternyata yang diperoleh hanya koloni yang berupa misellium saja, maka diperlukan langkah-langkah perlakuan khusus sehingga struktur yang dikehendaki dapat muncul.

4. Menggunakan Mikroskop Elektron
Jasad sub-mkroskopis seperti virus dan viroid kehadirannya dapat diketahui dengan menggunakan mikroskop elektron. Mikroskop elektron dapat memperbesar obyek sampai ratusan ribi kali. Bagian-bagian jamur dan bakteripun akan nampak sangat jelas dengan menggunakan mikroskop elektron.

5. Menggunakan Reaksi SerologiReaksi serologi merupakan reaksi antara antigen dan antibodi. Antigen adalah semua zat (dapat merupakan bagian patogen) yang dapat mengimbas terbentuknya antibodi dalam tubuh mamalia. Antibodi hanya dapat bereaksi dengan antigen sehingga dapat terjadi koagulasi atau presipitasi. Saat ini dikenal ada dua tipe antibodi, yaitu antibodi poliklonal dan monoklonal. Antibodi monoklonal dapat secara sensitif mendeteksi kehadiran strain patogen tertentu. Dengan memiliki antibodi yang diimbas oleh antigen yang berasal dari patogen tertentu, maka kehadiran patogen pada suatu bahan dapat dideteksi secara cepat dan akurat. Saat ini tehnik eliza banyak digunakan dalam reaksi serologi.

Dasar Dasar mendiagnosa suatu penyakit tanaman harus dipahami 
• Penyebab penyakit/patogen yang berbeda dapat  menimbulkan gejala yang sama pada inangnya.
• Tanda penyakit dapat menambah kepastian suatu diagnosis, tetapi perlu dipertimbangkan pula kemungkinan adanya patogen sekunder atau saprofit yang menyerang bagian tanaman yang terinfeksi. Sehingga kesalahan diagnosa dapat diminimalisir.

 

REFERENSI
http://swindakris08.student.ipb.ac.id/2010/06/21/diagnosis-penyakit-tumbuhan/
http://www.apsnet.org/pages/apsnetredirect.aspx
http://www.plantmanagementnetwork.org/pub/trial/pdmr/
http://www.plantmanagementnetwork.org/php/

Rabu, 10 April 2013

HAMA dan PENYAKIT RAMBUTAN

HAMA dan PENYAKIT RAMBUTAN - Budidaya Petani. Ada beberapa HAMA dan PENYAKIT RAMBUTAN yang biasa menyerang dalam budidaya tanaman rambutan.
 
Hama pada Daun Rambutan
 
Hama tanaman rambutan berupa serangga seperti semut, kutu, kepik, kalong & bajing serta hama lainya seperti, keberadaan serangga ini dipengaruhi faktor lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik. misal: ulat penggerek buah (Dichocricic punetiferalis) warna kecoklat-coklatan dengan ciri-ciri buah menjadi kering & berwarna hitam, Ulat penggerek batang (Indrabela sp) membuat kulit kayu & mampu membuat lobang sepanjang 30 cm, Ulat pemakan daun (Ploneta diducta/ulat keket) memakan daun-daun terutama pada musim kemarau. Ulat Jengkal (Berta chrysolineate) pemakan daun muda sehingga penggiran daun menjadi kering, keriting berwarna cokelat kuning.
 
Penyakit Rambutan
 
Penyakit tanaman rambutan disebabkan organisme semacam ganggang (Cjhephaleusos sp) yg diserang umumnya daun tua & muncul pada musim hujan dengan ciri-ciri adanya bercak-bercak kecil dibagian atas daun disertai serat-serat halus berwarna jingga yg merupakan kumpulan sporanya. Ganggang Chaphaleuros kesimbiose dengan lumut kerek (lichen) & dapat dijumpai pada daun & batang rambutan, yg nampak seperti panu sehingga ranting yg diserang dapat mati; Penyakit akar putih disebabkan oleh cendawan (jamur) Rigidoporus Lignosus dengan tanda rizom berwarna putih yg menempel pada akar & apabila akar yg kena dikupas akan nampak warna kecoklatan.
 
Gulma
 
Segala macam tumbuhan pengganggu tanaman rambutan yg berbentuk rerumputan yg berada disekitar tanaman rambutan yg akan mengganggu pertumbuhan perkembangan bibit rambutan oleh sebab itu perlu dilakukan penyiangan secara rutin. Baca selengkapnya tentang budidaya Buah rambutan di >> Budidaya Tanaman Rambutan.

PEDOMAN BUDIDAYA RAMBUTAN

PEDOMAN BUDIDAYA RAMBUTAN - Budidaya Petani. Berikut adalah pedoman budidaya tanaman rambutan.
 
  1. Persyaratan Benih : Benih yg diambil biasanya dipilih dari benih-benih yg disukai oleh masyarakat konsumen antara lain: Rambutan Rapiah, Rambutan Aceh, Lebak bulus, Rambutan Cimacan, Rambutan, Rambutan Sinyonya.
  2. Penyiapan Benih : Persiapan benih biji yg dipergunakan sebagai pohon pangkal setelah buah dikupas & diambil bijinya dengan jalan fermentasi biasa (ditahan selama 1-2 hari) sesudah itu di angin-anginkan selama 24 jam (sehari semalam) & biji siap disemaikan. Disamping itu dapat pula direndamdengan larutan asam dengan perbandingan 1:2 dari air & larutan asam yg terdiri dari asam chlorida (HCl) 25% atau Asam Sulfat (H2S04) BJ = 1.84, caranya direndam selama 15 menit kemudian dicuci dengan air tawar yg bersih sebanyak 3 kali berulang dengan air yg mengalir selama 10 menit & dianginkan selama 24 jam. Untuk menghidari jamur biji dapat dibalur dengan larutan Dithane 45, Attracol 70 WP atau fungisida lainnya.
  3. Teknik Penyemaian Benih : Teknik penyemaian benih dipilih lahan yg gembur & mudah mendapat pengairan serta mudah dikeringkan disamping itu mudah diawasi seperti: mencangkul tanah sedalam 20-30 cm sambil dibersihkan dari rumput-rumput, batu-batu & sisa pepohonan & benda keras lainnya. Kemudian tanah dihaluskan sehingga menjadi gembur & buatkan bedang-bedeng yg berukuran 1-1,5 m lebar & tinggi sekitar 30 cm, panjang disesuaikan dengan luas pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan sekitar 10 m, dengan keadaan arah membujur dari Utara ke Selatan, supaya mendapatkan banyak sinar matahari walaupun setelah diberi atap pelindung, dengan jarak antara bedeng 30 cm & untuk menambah kesuburan dapat diberi pupuk hijau, kompos/pupuk kandang yg sudah matang & benih siap disemaikan. Selain dengan melalui proses pengecambahan juga biji dapat langsung ditunggalkan pada bedeng-bedeng yg sudah disiapkan, untuk menyiapkan pohon pangkal lebih baik melalui proses pengecambahan, biji-biji tersebut ditanam pada bedeng-bedeng yg berjarak 10 X 10 cm setelah berkecambah & berumur 1-1,5 bulan & sudah tumbuh daun sekitar 2-3 helai maka bibit dapat dipindahkan dari bedeng persemaian ke bedeng penanaman.
  4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian : Setelah bibit berkecambang & telah berumur 1-1,5 bulan disiram pagi sore, setelah kecambah dipindah ke bedeng pembibitan penyiraman cukup 1 kali tiap pagi hari sampai menjelang mata hari terbit, dengan menggunakan "gembor" supaya merata & tidak merusak bedengan & diusahakan air dapat menembus sedalam 3-4 cm dari permukaan. Kemudian dilakukan pendangiran bedengan supaya tetap gembur & dilakukan setiap 2-3 minggu sekali, rumput yg tumbuh disekitarnya supaya disiangi, hindarkan dari serangan hama & penyakit, sampai umur kurang lebih 1 tahun persemaian yg dilakukan terhadap pohon baru setelah itu dapat dilakukan pengokulasian yg ditentukan dengan sistem Fokkert yg sudah disempurnakan yg sebelumnya daun-daun dirontokkan pada pohon induk yg telah dipilih mata kulitnya & kemudian setelah disiapkan tempat untuk penempelan mata kulit tersebut sampai mata kulit itu tumbuh tunas, setelah itu tunas asli pada pohon induk yg telah ditempel dipangkas, kemudian rawat dengan penyiraman 2 kali sehari & mendangir serta membersihkan rumput-rumput yg ada disiangi, kemudian dapat juga diberi pupuk urea 10 gram untuk tiap 1 m² untuk 25 tanaman rambutan.
  5. Pemindahan Bibit : Cara pemindahan bibit yg telah berkecambah atau di cangkok maupun diokulasi dapat dengan mencungkil/membuka plastik yg melekat pada media penanaman dengan cara hati-hati jangan sampai akar menjadi rusak & dilakukan penyungkilan sekitar 5 cm & agar tumbuh akar lebih banyak maka dlm penanaman kembali akar tunggangnya dapat dipotong sedikit untuk menjaga penguapan kemudian lebar daun dipotong separuh serta keping yg menempel dibiarkan sebab berfungsi sebagai cadangan makanan sebelum dapat menerima makanan dari tanah yg baru. & ditanam pada bedeng pembibitan dengan jarak 30-40 cm & ditutupi dengan atap yg dipasang miring lebih tinggi di Timur dengan harapan dapat lebih banyak kena sinar mata hari pagi.
  1. Persiapan : Pilihlah tanah yg subur, hindari daerah yg berkondisi tanahnya terlampau liat & tidak memiliki sirkulasi yg baik, meskipun pada daerah perbukitan tetapi tanahnya subur dengan cara membuat sengkedan (teras) pada bagian yg curam, kemudian untuk menggemburkan tanah perlu dibajak atau cukup dicangkul dengan kedalaman sekitar 30 cm secara merata.
  2. Pembukaan Lahan. Tanah yg akan dipergunakan untuk kebun rambutan dikerjakan semua secara bersama, tanaman pengganggu seperti semak-semak & rerumputan dibuang & benda-benda keras disingkirkan kemudian tanah dibajak/dicangkul. Bila bibit berasal dari cangkokan pengolahan tanah tidak perlu terlalu dlm tetapi kalau dari hasil okulasi perlu pengolahan yg cukup dalam. Kemudian dibuatkan saluran air selebar 1 meter & kedalam disesuaikan dengan kedalaman air tanah, guna mengatasi sistem pembuangan air yg kurang lancar. Tanah yg kurus & kurang humus atau tanah cukup liat diberikan pupuk hijau yg dibuat dengan cara mengubur ranting-ranting & dedaunan & kondisi ini dibiarkan selama kurang lebih 1 tahun sebelumnya.
  3. Pembentukan Bedengan. : Setelah tanah keadaan gembur & buatkan bedeng-bedengan yg berukuran 8 m lebar & tinggi sekitar 30 cm dengan perataan dasar atasnya guna menopang bibit yg akan ditanam, panjang disesuaikan dengan luas pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan sekitar 10 m, dengan keadaan arah membujur dari utara ke selatan, supaya mendapatkan banyak sinar matahari pagi walaupun setelah diberi atap pelindung, dengan jarak antara bedeng 1 m yg diharapkan untuk lalu-lintas para pekerja & dapat dipergunakan sebagai saluran air pembuangan, & untuk menambah kesuburan dapat diberi pupuk hijau, kompos/pupuk kandang yg sudah matang
  4. Pengapuran : Pengapuran pada dataran yg berasal dari tambak & juga dataran yg baru terbentuk tidak bisa ditanami, selain tanah masih bersifat asam juga belum terlalu subur, setelah lobang-lobang itu digali dengan ukuran penanaman di pekarangan & dasarnya ditaburkan kapur sebanyak 0,5 liter untuk setiap lobang guna menetralkan pH tanah hingga mencapai 6-6,7 sebagai syarat tumbuhnya tanaman rambutan, setelah 1 minggu dari penaburan kapur diberi pupuk kandang supaya tanah menjadi subur.
  5. Pemupukan : Setelah jangka waktu 1 minggu dari pemberian kapur pada lubang-lubang yg ditentukan kemudian diberikan pupuk kandang sebanyak 25 kg (kurang lebih 1 blek) & setelah 1 minggu lahan baru siap untuk ditanami bibit rambutan yg telah jadi.
  1. Penentuan Pola Tanaman : Penyiapan pohon pangkal sebaiknya melalui proses perkecambahan kemudian ditanam dengan jarak 10 x 10 cm setelah berkecambah & berumur 1-1,5 bulan atau telah tumbuh daun sebanyak 3 helai maka bibit/zaeling dapat dipindahkan pada bedeng ke dua dengan jarak 1-14 meter. Untuk menghindari sengatan sinar matahari secara langsung dibuat atap yg berbentuk miring lebih tinggi ke Timur dengan maksud supaya mendapatkan sinar matahari pagi hari secara penuh.
  2. Pembuatan Lubang Tanaman : Pembuatan lubang pada bedeng-bedeng yg telah siap untuk tempat penanaman bibit rambutan yg sudah jadi dilakukan setelah tanah diolah secara matang kemudian dibuat lobang-lobang dengan ukuran 1 x 1 x 0,5 m yg sebaiknya telah dipersiapkan 3-4 pekan sebelumnya & pada waktu penggalian tanah yg diatas & yg dibawah dipisahkan yg nantinya dipergunakan untuk penutup kembali lubang yg telah diberi tanaman, sedangkan jarak antar lubang sekitar 12-14 m.
  3. Cara Penanaman : Setelah berlangsung selama 2 pekan lubang ditutup dengan susunan tanah seperti sedia kala & tanah yg bagian atas dikembalikan setelah dicampur dengan 3 blek (1 blek kurang lebih 20 liter) pupuk kandang yg sudah matang, & kira-kira 4 pekan & tanah yg berada di lubang bekas galian tersebut sudah mulai menurun baru rambutan ditanam & tidak perlu terlalu dlm secukupnya, maksudnya batas antara akar & batang rambutan diusahakan setinggi permukaan tanah yg ada disekelilingnya.
  4. Lain-lain : Pada awal penanaman di kebun perlu diberi perlindungan yg rangkanya dibuat dari bambu/bahan lain dengan dipasang posisi agak tinggi disebelah Timur, agar tanaman mendapatkan lebih banyak sinar matahari pagi dari pada sore hari, & untuk atapnya dapat dibuat dari daun nipah, kelapa/tebu. Sebaiknya penanaman dilakukan pada awal musim penghujan, agar kebutuhan air dapat dipenuhi secara alamiah.
  1. Penjarangan & Penyulaman : Karena kondisi tanah telah gembur & mudah tanaman lain akan tumbuh kembali terutama Gulma (tanaman pengganggu), seperti rumput-rumputan & harus disiangi sampai radius 1-2 m sekeliling tanaman rambutan. Apabila bibit tidak tumbuh dengan baik segera dilakukan penggantian dengan bibit cadangan.
  2. Perempalan : Agar supaya tanaman rambutan mendapatkan tajuk yg rimbun, setelah tanaman berumur 2 tahun segera dilakukan peempelan/ pemangkasan pada ujung cabang-cabangnya. Disamping untuk memperoleh tajuk yg seimbang juga berguna memberi bentuk tanaman, memperbanyak & mengatur produksi agar tanaman tetap terpelihara. Pemangkasan juga perlu dilakukan setelah masa panen buah berakhir dengan harapan muncul tajuk-tajuk baru sebagai tempat munculnya bunga baru pada musim berikutnya & hasil berikutnya dapat meningkat.
  3. Pemupukan : Untuk menjaga agar kesuburan lahan tanaman rambutan tetap stabil perlu diberikan pupuk secara berkala dengan aturan:
    • Pada tahun ke 2 setelah penanaman bibit diberikan pada setiap pohon dengan campuran 30 kg pupuk kandang, 50 kg TSP, 100 gram Urea & 20 germ ZK dengan cara ditaburkan disekeliling pohon/dengan jalan menggali disekeliling pohon sedalam 30 cm selebar antara 40-50 cm, kemudian masukkan campuran tersebut & tutup kembali dengan tanah galian sebelumnya.
    • Tahun berikutnya perlu dosis pemupukan perlu ditambah dengan komposisi 50 kg pupuk kandang, 60 kg TSP, 150 gr Urea & 250 gr ZK dengan cara pemupukan yg sama, apabila menggunakan pupuk NPK maka perbandingannya 15:15:15 dengan ukuran diantara 75-125 kg untuk setiap ha, & bila ditabur dlm musim hujan & dengan komposisi 250-350 kg apabila dilakukan saat awal musim penghujan
  4. Pengairan & Penyiraman : Selama dua minggu pertama setelah bibit yg berasal dari cangkokan/okulasi ditanam, penyiraman dilakukan sebanyak dua kali sehari, pagi & sore. & minggu-minggu berikutnya penyiraman dapat dikurangi menjadi satu kali sehari. Apabila tanaman rambutan telah tumbuh benar-benar kuat frekuensi penyiraman bisa dikurangi lagi yg dapat dilakukan saat-saat diperlukan saja. & bila turunterlalu lebat diusahakan agar sekeliling tanaman tidak tegenang air dengan cara membuat lubang saluran untuk mengalirkan air.
  5. Waktu Penyemprotan Pestisida : Guna mencegah kemungkinan tumbuhnya penyakit/hama karena kondisi cuaca/hewan-hewan perusak maka perlu dilakukan penyemprotan pestisida umumnyadilakukan antara 15-20 hari sebelum panen & juga apabila kelembaban udara terlalu tinggi akan tumbuh cendawan, apabila musim penghujan mulai tiba perlu disemprot fungisida beberapa kali selama musim hujan pestisida & insektisida
  6. Pemeliharaan Lain : Untuk memacu munculnya bunga rambutan diperlukan larutan Kalsium Nitrat yg akan mempercepat 10 hari lebih awal dari pada tidak diberi larutan Kalsium Nitrat & juga mempunyai keunggulan memperbanyak "dompolan" bunga (tandan) rambutan pada setiap stadium (tahap perkembangan) serta mempercepat pertumbuhan buah rambutan. Baca selengkapnya tentang budidaya rambutan di >> Budidaya Tanaman Rambutan.

SYARAT PERTUMBUHAN RAMBUTAN

SYARAT PERTUMBUHAN RAMBUTAN - Budidaya Petani. Ada beberapa syarat tumbuh untuk tanaman rambutan yang harus ada supaya dalam budidaya tanaman rambutan dapat optimal.

SYARAT PERTUMBUHAN RAMBUTAN

Iklim
  1. Dalam budidaya rambutan angin berperan dlm penyerbukan bunga.
  2. Intensitas curah hujan yg dikehendaki oleh pohon rambutan berkisar antara 1.500-2.500 mm/tahun & merata sepanjang tahun
  3. Sinar matahari harus dapat mengenai seluruh areal penanaman sejak dia terbit sampai tenggelam, intensitas pancaran sinar matahari erat kaitannya dengan suhu lingkungan.
  4. Tanaman rambutan akan dapat tumbuh berkembang serta berbuah dengan optimal pada suhu sekitar 25°C yg diukur pada siang hari. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kempes).
  5. Kelembaban udara yg dikehendaki cenderung rendah karena kebanyakan tumbuh di dataran rendah & sedang. Apabila udara mempunyai kelembaban yg rendah, berarti udara kering karena miskin uap air. Kondisi demikian cocok untuk pertumbuhan tanaman rambutan.
Media Tanam
  1. Rambutan dapat tumbuh baik pada lahan yg subur & gembur serta sedikit mengandung pasir, juga dapat tumbuh baik pada tanah yg banyak mengandung bahan organik ataui pada tanah yg keadaan liat & sedikit pasir.
  2. Pada dasarnya tingkat/derajat keasaman tanah (pH) tidak terlalu jauh berbeda dengan tanaman perkebunan lainnya di Indonesia yaitu antara 6-6,7 & kalau kurang dari 5,5 perlu dilakukan pengapuran terlebih dahulu.
  3. Kandungan air dlm tanah idealnya yg diperlukan untuk penanaman pohon rambutan antara 100-150 cm dari permukaan tanah.
  4. Pada dasarnya tanaman rambutan tidak tergantung pada letak & kondisi tanah, karena keadaan tanah dapat dibentuk sesuai dengan tata cara penanaman yg benar (dibuatkan bedengan) sesuai dengan petunjuk yg ada.
Ketinggian Tempat
Rambutan dapat tumbuh subur pada dataran rendah dengan ketinggian antara 30-500 m dpl. Pada ketinggian dibawah 30 m dpl rambutan dapat tumbuh namun tidak begitu baik hasilnya. Baca selengkapnya tentang budidaya tanaman rambutan di >> Budidaya Tanaman Rambutan atau di http://budidaya-petani.blogspot.com/2013/03/rambutan.html

JENIS TANAMAN RAMBUTAN

JENIS TANAMAN RAMBUTAN - Budidaya Petani. Dari survey yg telah dilakukan terdapat 22 jenis rambutan baik yg berasal dari galur murni maupun hasil okulasi atau penggabungan dari dua jenis dengan galur yg berbeda. Ciri-ciri yg membedakan setiap jenis rambutan dilihat dari sifat buah (dari daging buah, kandungan air, bentuk, warna kulit, panjang rambut). Dari sejumlah jenis rambutan diatas hanya beberapa varietas rambutan yg digemari orang & dibudidayakan dengan memilih nilai ekonomis relatif tinggi diantaranya:
  1. Rambutan Rapiah buah tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya tinggi, kulit berwarna hijau-kuning-merah tidak merata dengan beramut agak jarang, daging buah manis & agak kering, kenyal, ngelotok & daging buahnya tebal, dengan daya tahan dapat mencapai 6 hari setelah dipetik.
  2. Rambutan Aceh Lebak bulus pohonnya tinggi & lebat buahnya dengan hasil rata-rata 160-170 ikat per pohon, kulit buah berwarna merah kuning, halus, rasanya segar manis-asam banyak air & ngelotok daya simpan 4 hari setelah dipetik, buah ini tahan dlm pengangkutan.
  3. Rambutan Cimacan, kurang lebat buahnya dengan rata-rata hasil 90-170 ikat per pohon, kulit berwarna merah kekuningan sampai merah tua, rambut kasar & agak jarang, rasa manis, sedikit berair tetapi kurang tahan dlm pengangkutan.
  4. Rambutan Binjai yg merupakan salah satu rambutan yg terbaik di Indonesia dengan buah cukup besar, dengan kulit berwarna merah darah sampai merah tua rambut buah agak kasar & jarang, rasanya manis dengan asam sedikit, hasilbuah tidak selebat aceh lebak bulus tetapi daging buahnya ngelotok.
  5. Rambutan Sinyonya, jenis rambutan ini lebat buahnya & banyak disukai terutama orang Tionghoa, dengan batang yg kuat cocok untuk diokulasi, warna kulit buah merah tua sampai merah anggur, dengan rambut halus & rapat, rasa buah manis asam, banyak berair, lembek & tidak ngelotok. lihat selengkapnya tentang budidaya buah rambutan ada di >> budidaya tanaman rambutan.

KLINIK TANAMAN




Apa klinik tanaman?
Klinik tanaman merupakan suatu wadah dimana terjadi suatu pelayanan pada masyarakat yang berhubungan dengan gangguan pada tanaman yang diusahakannya. Klinik tanaman sebagai media bagi petani untuk memecahkan masalah masalah sehubungan dengan kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh  serangga hama, patogen dan penyebab kerusakan yang lain. Klinik tanaman tidak dapat berdiri sendiri pada satu bidang study saja tetapi merupakan gabungan dari ilmu agronomi, Ilmu tanah, ilmu hama dan penyakit serta ilmu ilmu pertanian yang lain.
Klinik tanaman dapat juga didefinisikan sebagai wadah penyaluran/disseminasi informasi-informasi yang berhubungan dengan ilmu ilmu pertanian. Sehingga klinik tanaman dapat berfungsi sebagai media bersama untuk saling bertukar informasi.

Ada sebuah kesalah pahaman jika kita membicarakan mengenai klinik tanaman, banyak pendapat yang menyatakan bahwa klinik tanaman adalah kliniknya orang orang hama dan penyakit tumbuhan. Atau dengan kata lain klinik tanaman identik dengan konsultasi mengenai penyebab kerusakan pada tanaman ( kerusakan yang disebabkan oleh hama maupun penyakit pada tanaman ). Sesuai dengan penjelasan kami diatas bahwa klinik tanaman tidak dapat berdiri sendiri sebagai suatu bidang keahlian tertentu tetapi harus terpadu dengan berbagai bidang dalam ilmu pertanian. Mengapa ? karena ketika kita berada di lapang dan ketika terdapat gejala serangan hama atau penyakit sering kali gejala bukan oleh patogen atau hama tetapi oleh kondisi tanah tetapi gejalanya serupa.

Melalui klinik tanaman ini petani dan petugas klinik tanaman dapat berdiskusi secara mendalam tentang pengelolaan pertanaman mereka untuk mendapatkan hasil yang sehat dan optimal dengan meminimumkan kerusakan terhadap ekosistem lingkungan
Pada postingan kami kali ini kami akan lebih fokus pada Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan. Hal ini bukan berarti mengabaikan bidang ilmu yang lain. Hal ini semata mata karena bidang Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan yang penulis kuasai.


Fungsi klinik tanaman
Menyebarluaskan teknologi PHT kepada petani dan institusi lain
Wadah bagi staf pengajar dan mahasiswa untuk menangani permasalahan hama dan penyakit di lapangan
Wadah mekanisme respon balik bagi masyarakat tentang apa yang dialami petani dan klien lainnya yang dapat menjadi bahan penelitian dan memperkaya dalam pengajaran di kelas
Klinik tanaman atau sering juga disebut laboratrium diagnosis penyakit tanaman umumnya dilengkapi oleh para ahli dan petugas (dapa juga dari mahasiswa yang magang) yang melakukan penyululuhan maupun pendidikan di bidan penyakit tanaman.

Beberapa tanaman sakit dapat dengan mudah dikenali melalui gejala yang tampak sehingga dapat direkomendasikan pengendaliannya akantetapi beberapa penyakit lainnya memerlukan beberapatahapan baik secara makro maupun mikro sehingga memerlukan waktu bebeapa hari atau minggu untuk mendapatkan hasil dan rekomendasinya. 


ALUR PLAYANAN KLINIK TANAMAN




Tujuan Mendiagnosis Penyakit Tanaman
Pengendalian penyakit yang efektif terutama tergantung pada awal, identifikasi akurat penyakit dan agen kausal.. Dalam kebanyakan kasus, hal itu sudah terlambat untuk mengendalikan penyakit pada tanaman setelah penyakit muncul. Namun, langkah-langkah pengendalian yang tepat waktu dapat mencegah penyakit menyebar ke tanaman lain.
Bidang diagnosis masalah penyakit yang melibatkan beberapa pekerjaan detektif mencari gejala, tanda-tanda dan pola. Gejala respons tanaman tekanan tertentu yang mungkin disebabkan oleh lingkungan atau oleh patogen.
Tanda bagian dari patogen seperti struktur, galls, cairan atau miselium (jamur). Pola penyakit di suatu daerah memberikan banyak petunjuk tentang penyebabnya. Mengkompilasi semua informasi ini akan membantu dengan benar mengidentifikasi masalah. 


LANGKAH DALAM BIDANG diagnosis:
1. Tentukan nama ilmiah serta nama umum karena nama-nama umum yang sering digunakan untuk spesies tanaman sangat berbeda. Contoh, terdapat berbagai jenis pohon pinus masing-masing dengan berbagai penyakit tanaman unik untuk spesies tersebut.

2. Menentukan penyakit apa yang telah dilaporkan terjadi pada tanaman sedang diperiksa. Dengan menggunakan buku-buku penyakit yang tersedia. seperti:
- Diseases and Pests of Ornamental Plants -- PP Pirone Penyakit dan Hama Tanaman Hias - PP Pirone
- Vegetable Crop Diseases -- CR Dixon Penyakit Tanaman sayur - CR Dixon
- Westcott's Plant Disease Handbook -- K. Horst Hama / penyakit tanaman Westcott's Handbook - K. Horst
- Diseases of the Forest and Shade Trees of the United States -- USDA Handbook.
- How to Control Plant Diseases in Home and Garden -- MC Shurtleff .
- Fungi on Plants and Plant Products on the United States -- D. Farr, G. Bills, G. Chamuris, A. Rossman.
- Diagnosis penykit tanaman. Street. The university of Arizona Press dll

3. Bandingkan tanaman sakit dengan tanaman yang tumbuh sehat di dekatnya untuk menilai lebih baik gejala dan tanda-tanda. Beberapa bagian tumbuhan yang normal sering keliru untuk menjadi bukti dari penyakit. Sebagai contoh, daun kurma yang sehat dilindungi oleh bulu yang mencolok bingung dengan miselium jamur. Galls kecil pada akar kacang-kacangan seperti kacang-kacangan dan alfalfa mungkin saja normal nitrogen nodul.

4. Menentukan distribusi penyakit di dalam lapangan atau kebun. Apa kah ada lebih dari satu jenis tanaman yang terkena? Jika demikian, penyakit ini mungkin disebabkan oleh iklim, bahan kimia atau faktor budaya lainnya. Jika kondisi terdistribusi secara seragam di tempat yang rendah di lapangan atau hanya dipinggir sebuah penanaman, tanah atau air sebuah faktor atau kimia beracun harus dicurigai. Parasit dalam waktu dan jarang menginfeksi 100% dari tanaman di suatu daerah. Ketika masalah mempengaruhi semua tanaman di daerah tertentu, penyebab masalah tersebut mungkin kekurangan atau kelebihan dari nutrisi tanah; Hasil kekeringan, es atau hujan es atau bahan kimia beracun seperti herbisida atau polusi udara. Patogen tanaman jarang menyebabkan kondisi untuk muncul tiba-tiba. Mereka biasanya mulai pada satu titik dan menyebar perlahan-lahan ke tanaman lain. Jika gejala muncul "semalam" atau dalam satu atau dua hari, mungkin akibat faktor iklim atau kimia beracun.

5. Apakah tanaman yang sama atau tanaman telah ditanam di daerah tersebut pada tahun- tahun sebelumnya? Apakah ada masalah pada spesies tanaman lain di lokasi yang sama? Apakah ada herbisida atau bahan kimia digunakan di daerah? Apakah pernah terjadi sangat dingin, panas atau basah kondisi iklim di masa lalu .beberapa hari?

6. Banyak gejala di atas tanah. seperti akar membusuk. Jika daun kecil, kuning atau menunjukkan layu atau jika tanaman memiliki pertumbuhan lambat dan sangat sedikit buah atau produksi bunga, kemudian akar membusuk harus dicurigai. Menggali di sekitar pangkal pohon mencari akar mati atau daerah di kulit. Tanaman yang lebih kecil (misalnya bunga, tanaman sayuran) haru diperiksa dengan seksama ,akar diperiksa. Akar sehat harus warna putih atau krem. ika mereka cokelat atau hitam, mungkin memiliki akar tanaman membusuk.

7. kekeringan atau beberapa faktor iklim lain dapat mempercepat kehilangan daun jarum sehingga seluruh pohon akan tampak kuning.Umumnya tidak ada perlunya perhatian jika hanya jarum tertua yang ditinggalkan.

8. Apakah gejala hanya terdapat pada daun, batang, bunga atau buah, atau seluruh tanaman yang terlibat?

9. Jika penyebab kondisi tidak dapat langsung tentukan, Anda mungkin perlu meminta bantuan dari agen daerah. Kadang-kadang gejala dan tanda-tanda tidak cukup karakteristik untuk memungkinkan diagnosis yang akurat dari masalah. Dalam kasus ini, sampel mungkin harus diambil untuk mengisolasi dan mengidentifikasi agen penyebab.