Rabu, 10 April 2013

Tanaman Perangkap Hama


Pemanfaatan Senyawa Kimia Alami Sebagai Alternatif Pengendalian Hama Tanaman dengan
TANAMAN PERANGKAP HAMA

Hama masih menjadi kendala utama dalam budidaya berbagai jenis tanaman. Sampai saat ini, petani banyak yang masih menggunakan insektisida untuk mengendalikan berbagai jenis hama yang merusak tanamannya, terutama untuk tanaman yang masih belum tersedia varietas yang tahan terhadap hama hama tersebut. Pengendalian menggunakan insektisida banyak menimbulkan masalah antara lain adanya pencemaran lingkungan oleh insektisida, bisa menyebabkan keracunan bagi petani pengguna insektisida, musnahnya musuh-musuh alami hama hama yang diharapkan dapat menekan populasi hama secara alamiah, bisa menyebabkan serangga menjadi tahan terhadap insektisida sehingga kita harus menggunakan insektisida dengan dosis yang lebih tinggi, dan dapat menyebabkan timbulnya risurjensi hama atau meningkatnya populasi hama setelah penggunaan insektisida.

Perangkap tanam adalah penanaman tanaman perangkap untuk melindungi tanaman budidaya utama dari hama atau beberapa hama tertentu. Tanaman perangkap dapat berasal dari kelompok keluarga yang sama atau berbeda dari tanaman utama. Serangga hama lebih menyukai tanaman perangkap dari pada tanaman utama. Analisanya adalah sama seperti kita ( manusia ) apabila kita disuruh memilih dua piring makanan. Makanan yang satu sesuai dengan selera kita dan makanan yang lain biasa biasa saja maka kita akan lebih memilih makanan yang paling kita sukai. Demikian juga serangga. Apabila dalam satu hamparan lahan terdapat beberapa jenis tanaman yaitu tanaman utama yang biasa biasa saja dan tanaman perangkap yang lebih enak dari tanaman utama ( enak menurut serangga hama bukan menurut manusia atau petani ) maka serangga hama akan lebih memilih tanaman perangkap.

Ada dua jenis penanaman tanaman perangkap yaitu perimeter perangkap dan baris tanam dengan tumpangsari. Perimeter perangkap tanam (perangkap perbatasan tanam) adalah penanaman tanaman perangkap sepenuhnya di sekitar tanaman yang dibudidayakan ( tanaman utama). Ini mencegah serangan hama yang berasal dari sisi luar lahan pertanaman. Hama hama sejenis yang berada diluar lahan pertanian akan tertarik pada tanaman perangkap dibandingkan dengan tanaman utama. 

Tumpangsari dalam Baris Tanaman adalah penanaman tanaman perangkap di baris dalam tanaman utama. 

Campuran adalah menggabungkan kedua parimeter perangkap ( Perangkap perbatasan dan Row tumpangsari )

Keuntungan dari perangkap tanam
1. Mengurangi penggunaan pestisida
2. Menurunkan biaya pestisida
3. Menjaga musuh alami asli
4. Meningkatkan kualitas tanaman itu
5. Membantu melestarikan tanah dan lingkungan
Sebuah penelitian mengatakan bahwa dengan menggunakan tanaman perangkap dapat mengurangi tingkat kerusakan oleh serangga hama sebesar 75 % dan pengurangan biaya penggunaan Pestisida ( Insektisida ).
Penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama tanaman saat ini banyak menimbulkan dampak negatif. Masalah pencemaran lingkungan merupakan akibat yang jelas terlihat, selain itu penggunaan pestisida secara terus menerus juga dapat menyebabkan resistensi hama dan bahkan meninggalkan residu pestisida pada produk hasil pertanian yang bisa berbahaya apabila dikonsumsi manusia. Oleh karena itu diperlukan upaya pengendalian hama secara ramah lingkungan, seperti penggunan pestisida nabati atau biopestisida.

Selain dengan pestisida nabati ada salah satu cara pengendalian hama tanaman secara ramah lingkungan yaitu dengan memanfaatkan senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam tumbuhan dan serangga (hama). Serangga menggunakan senyawa kimia untuk berkomunikasi dengan serangga lain, demikian juga dengan tumbuhan memiliki senyawa kimia yang dikeluarkan untuk menarik serangga penyerbuk (attractant), ataupun untuk mempertahankan diri (protectant). Dengan memanipulasi senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh serangga ataupun tanaman diharapkan akan dapat menurunkan populasi hama dengan cara menghambat kehadiran hama tersebut dalam suatu areal pertanaman budidaya.

Sebelum dijelaskan tentang cara memanipulasi senyawa kimia yang disekresikan oleh serangga dan tumbuhan untuk pengendalian hama, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai jenis-jenis senyawa kimia tersebut. Senyawa-senyawa kimia yang digunakan oleh serangga untuk berkomunikasi dengan serangga lain ataupun dengan tumbuhan diantaranya adalah:
1. Feromon, merupakan bahan yang disekresikan oleh organisme, dan berguna untuk berkomunikasi secara kimia dengan sesamanya dalam spesies yang sama. Berdasarkan fungsinya ada dua kelompok feromon yaitu:
a. Feromon “releaser”, yang memberikan pengaruh langsung terhadap sistem syaraf pusat individu penerima untuk menghasilkan respon tingkah laku dengan segera. Feromon ini terdiri atas tiga jenis, yaitu feromon seks, feromon jejak, dan feromon alarm.
b. Feromon primer, yang berpengaruh terhadap system syaraf endokrin dan reproduksi individu penerima sehingga menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis.
2. Allomon, adalah suatu senyawa kimia atau campuran senyawa kimia yang dilepas oleh suatu organisme dan menimbulkan respon pada individu spesies lain. Organisme pelepas memperoleh keuntungan, sedang penerimanya dirugikan. Bagi tumbuhan, allomon ini dapat dipakai sebagai sifat pertahanan dari serangan serangga herbivora. Allomon dapat juga dilepaskan oleh serangga untuk menolak predator.
3. Kairomon, adalah suatu senyawa kimia atau campuran senyawa kimia yang dilepas oleh suatu organisme dan menimbulkan respon fisiologis dan perilaku pada individu spesies lain. Senyawa kimia tersebut menimbulkan keuntungan adaptif bagi serangga, individu penerima. Sebagai contoh adalah kairomon yang dihasilkan tanaman jagung, yaitu tricosan, yang dapat menarik Trichogramma evanescens agar dapat menemukan inangnya, yaitu telur Helicoverpa zea.
4. Apneumon, adalah senyawa kimia yang menjadi penghubung antara serangga dengan benda mati. Serangga tersebut terus berkembang biak dengan suburnya dan menjadi makanan beberapa spesies predator.
5. Sinomon, adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme yang dapat menimbulkan respon fisiologis atau perilaku yang memberikan keuntungan adaptif pada kedua belah pihak.

Teknik pemanfaatan senyawa-senyawa kimia tersebut sebagai salah satu alternatif pengendalian hama tanaman adalah sebagai berikut.

A. Pemanfaatan senyawa feromon sintesis (feromoid)
Senyawa feromon seks beberapa spesies serangga telah diidentifikasi, dan telah pula dibuat sintesisnya antara lain Spodoptera litura. Serangga hama yang lain adalah Helicoverpa armigera dengan bentuk senyawa (z,z)-13, 15-oktadekadiena-1-ol asetat dan (z,z)-11, 13-oktadekadiena-1-ol asetat. Senyawa kimia feromon seks Lasioderma serricorne (F.) telah pula diidentifikasi dan dikarakterisasi dengan bentuk senyawa 4,6-dimetil-7-hidroksinonan-3-one. Pemanfaatan feromoid (feromon sintesis) selain untuk memantau populasi juga dapat untuk mengacaukan perkawinan (mating disruption). Dengan kacaunya perkawinan maka tidak banyak telur yang bisa menetas sehingga populasi tertekan. Teknologi ini telah digunakan untuk mengendalikan Plutella xylostella pada kubis, Pectinophora gossypiella (Saund.) pada kapas, serta Grapholita funebrana (F.) dan G. prumifora (F.) pada apel.

B. Pola tanam tumpangsari dan tanaman perangkap
Sistem tumpangsari sering menyebabkan penurunan kepadatan populasi hama dibanding system monokultur, hal ini disebabkan karena peran senyawa kimia mudah menguap (atsiri) yang dilepas dan gangguan visual oleh tanaman bukan inang akan mempengaruhi tingkah laku dan kecepatan kolonisasi serangga pada tanaman inang. Sebagai contoh, tanaman bawang putih yang ditanam diantara tanaman kubis dapat menurunkan populasi Plutella xylostella yang menyerang tanaman kubis tersebut. Hal ini karena senyawa yang dilepas oleh bawang putih tidak sama dengan senyawa yang dilepas tanaman kubis sehingga P. xylostella kurang menyukai habitat tanaman tumpangsari tersebut. Tanaman bawang putih melepas senyawa alil sulfida yang diduga dapat mengurangi daya rangsang senyawa atsiri yang dilepas kubis atau bahkan dapat mengusir hama tersebut.

Penanaman tanaman perangkap di antara tanaman utama juga mulai diterapkan untuk mengendalikan populasi hama. Mekanisme yang terjadi adalah adanya daya tarik yang lebih kuat dari tanaman perangkap dibanding tanaman utama sehingga hama lebih menyukai berada pada tanaman perangkap tersebut. Salah satu tanaman yang mampu menarik serangga hama dan musuh alaminya adalah jagung. Tanaman jagung sebagai perangkap telah berhasil diterapkan untuk mengendalikan Helicoverpa armigera pada kapas.

C. Pemasangan Senyawa / Minyak Atsiri
Prinsip dasar teknik ini sama dengan pola tanam tumpangsari. Perbedaannya, pada teknik ini tidak perlu menanam tanaman sela di antara tanaman utama, melainkan hanya memasang senyawa atsiri, baik sintetis maupun hasil ekstraksi alami (minyak atsiri), di tempat-tempat tertentu pada areal tanaman budidaya. Sampai saat ini senyawa atsiri yang paling banyak digunakan adalah metil eugenol sebagai perangkap hama lalat buah jantan. Senyawa 1,8-cineole yang merupakan senyawa penarik bagi hama pisang, yaitu kumbang Cosmopolites sordidus. Selain untuk mengendalikan hama yang menyerang pertanaman, senyawa atsiri juga telah diuji untuk mengendalikan hama gudang. Senyawa phenol thymol dan carvacrol yang berasal dari tanaman Thymus serpyllum serta terpinen-4-ol yang berasal dari Origanum majorama dapat digunakan sebagai fumigan uintuk hama kumbang kedelai Acanthoscelides obtectus. Eugenol yang berasal dari bunga cengkeh efektif terhadap hama Tribolium castaneum, Sitophilus zeamais, dan Prostephanus truncatus. Dengan demikian senyawa-senyawa atsiri ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk menggantikan bahan fumigasi kimia yang telah diaplikasikan selama ini di gudang-gudang penyimpanan. Penelitian dalam skala komersial perlu dilakukan untuk membuktikan efektifitas teknologi ini.

D. Pemanfaatan sampah/ bahan organik
Teknik ini memanfaatkan senyawa apneumon sebagai senyawa kimia penghubung antara serangga dengan benda mati. Sampah sebagai sarang musuh alami, khususnya predator, tampaknya belum terpikirkan untuk sarana pengendalian hama. Sampah (bekas gulma yang disiang) merupakan media hidup yang baik bagi musuh alami. Sampah yang lapuk tersebut sebenarnya merupakan media hidup mikroorganisme yang menjadi makanan predator. Akibatnya populasi hama tanaman dapat ditekan dengan meningkatnya predator tersebut. Contoh yang lain adalah kumbang kelapa Oryctes rhinoceros L. yang meletakkan telurnya pada kotoran sapi yang sudah lapuk atau tumpukan batang kelapa yang lapuk. Dengan demikian akan terjadi akumulasi larva pada satu tempat, khususnya apabila disediakan perangkap, sehingga pengendalian mekanis mudah, murah dan cepat dilakukan.
Dengan menerapkan teknik-teknik tersebut pada lahan pertanian diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang kita tahu banyak minimbulkan dampak negatif. Selain itu juga menghemat biaya untuk pengendalian hama tanaman.

Kalau kita mengamati lingkungaan disekitar kita, kadang-kadang kita bisa melihat pada suatu tanaman populasi hamanya lebih tinggi dibandingkan tanaman lainnya yang juga terserang oleh hama tersebut. Hal ini berarti suatu jenis tanaman lebih menarik bagi hama untuk makan dan meletakkan telurnya. Tanaman yang lebih menarik bagi hama tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tanaman peragkap untuk mengendalikan hama pada tanaman utama yang kurang disukai dibandingkan dengan tanaman perangkapnya. Tanaman utama ini apabila di tanam tanpa tanaman lain yang lebih disukai oleh hama akan diserang oleh hama tersebut. Sebagai contoh, apabila kita menanam jagung, kedelai, kacang gude dan kacang hijau, maka akan terlihat bahwa Helicoverpa armigera (penggerek buah kapas/tongkol jagung) yang merupakan hama utama pada ke empat jenis tanaman tersebut akan terkonsentrasi pada kacang gude dan jagung. Populasi telur hama ini pada jagung lebih banyak dibandingkan dengan pada kacang gude. Jadi pada kasus tersebut, tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai tanaman perangkap untuk mengurangi serangan hama pada tanaman kedelai. Berdasarkan pengalaman, penamanan jagung dapat melindungi serangan Helicoverpaarmigera pada tanaman kedelai sampai dengan jarak 14 m dari tanaman jagung. Jadi untuk pengendalian Helicoverpa armigera pada tanaman kedelai, kita dapat melakukan tumpang sari antara jagung dan kedelai dengan jarak antara tanaman jagung dan kedelai maksimal 14 m. Pada tanaman jagung, hama tersebut meletakkan telurnya pada rambut jagung dan umumnya hanya satu ulat yang dapat mencapai instar 3 karena adanya kanibalisme ulat pada tongkol jagung. Ulat ini hanya memakan bagian ujung dari tongkol jagung sehingga tidak menyebabkan kerugian yang berarti pada tanaman jagung. Karena ulat ini hanya meletakkan telurnya pada rambut jagung yang masih segar, maka dalam memanfaatkan tanaman jagung sebagai tanaman perangkap untuk mengendalikan Helicoverpa armiger a dalam budidaya kedelai, maka penanaman tanaman jagung diatur sedemikian rupa agar pada saat tanaman kedelai mencapai stadium yang disukai oleh hama ini yaitu stadium pembungaan sampai pengisian biji, tanaman jagung berada dalam fase berbunga. Karena umur bunga jagung tidak lama, maka kita harus menanam tiga varietas jagung yang umur berbunganya berbeda 10-15 hari dalam satu lubang apabila kita akan mengendalikan hama ini pada tanaman kedelai. Dengan cara yang sama, tanaman jagung dapat dimanfaatkan untuk pengendalian Helicoverpa armigera pada tanaman kapas . Seandainya kita akan mengendalikan populasi hama ini agar pada musim tanam yang akan datang populasinya rendah, maka kita cukup mengendalikan hama ini menggunakan insektisida pada tanaman jagung yang populasi tanamannya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman kedelai sehingga biaya pengendalian menggunakan insektisida akan rendah.

Contoh lainnya adalah kalau kita mengamati tanaman jambu biji/kelutuk yang ditanam bersebelahan dengan belimbing, maka akan terlihat buah jambu biji relatif bersih dari serangan lalat buah. Jadi kalau kita akan membudidayakan jambu biji secara komersial, kita dapat menanam belimbing diantara tanaman jambu biji untuk mengurangi kerugian akibat serangan lalat buah. Berbeda dengan pemanfaatkan tanaman jagung sebagai tanaman perangkap dimana tanaman jagungnya masih dapat dipanen, dalam kasus tanaman belimbing sebagai tanaman perangkap, kita mengorbankan tanaman belimbing untuk menyelamatkan tanaman jambu biji. Kalau kita masih ingin memanen belimbingnya, maka sebagian buah belimbing dibungkus, sedangkan buah lainnya dalam satu pohon dibiarkan terbuka supaya masih dapat digunakan sebagai perangkap lalat buah. Dalam kasus belimbing sebagai tanaman perangkap, buah-buah belimbing yang jatuh ke tanah karena busuk terserang lalat buah harus kita bakar atau kubur dalam tanah agar ulat lalat buah tidak sempat menjadi pupa atau lalat buah dewasa.

Contoh tanaman perangkap lainnya dapat dilihat apabila kita mengamati populasi hama pengisap polong kedelai, Nezara viridula pada tanaman kedelai, kacang hijau, kacang panjang dan Sesbania sp. yang merupakan tanaman inang hama tersebut . Pada tanaman-tanaman tersebut, akan terlihat bahwa sebagian besar populasi hama pengisap polong tersebut akan terkonsentrasi di tanaman Sesbania sp. Jadai kalau kita akan mengurangi kerugian hasil kedelai akibat serangan pengisap polong ini, kita dapat menanam Sesbania sp. disekeliling tanaman kedelai. Penanaman Sesbania sp. ini diatur waktunya agar pada saat kedelai berbunga, tanaman Sesbania sp. juga berbunga. Jadi dalam kasus ini, tanaman Sesbania sp harus ditanam lebih awal dibandingkan penanaman kedelai. Kalau kita akan menurunkan populasi hama ini agar populasinya rendah pada musim tanam yang datang, maka kita cukup mengendalikan populasi hama ini menggunakan insektisida pada tanaman Sesbania sp. sehingga kita bisa menghemat biaya pengendalian.

Berbagai tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap dalam pengendalian hama dapat kita baca diberbagai hasil penelitian tentang tanaman perangkap yang telah diterbitkan. Tanaman perangkap tidak harus dari species yang berbeda, karena tanaman perangkap dapat berasal dari spesies yang sama tetapi tanaman tersebut lebih menarik bagi hama dibandingkan dengan tanaman lainnya atau dengan kata lain tanaman tersebut lebih disukai oleh hama sebagai tempat untuk makan dan bertelur dibandingkan dengan tanaman lainnya. Manfaat penggunaan tanaman perangkap dalam pengendalian hama antara lain dapat mengurangi penggunaan Insektisida dalam pengendalian hama sehingga derajat kesehatan petani meningkat, biaya produksi menjadi lebih rendah, mengurangi pencemaran lingkungan, memberi kesempatan musuh alami mengendalikan hama secara alamiah karena musuh alami tidak punah karena penggunaan insektisida yang intensif dalam pengendalian hama. Selain itu, tanaman perangkap dapat dimanfaatkan untuk melakukan konservasi musuh alami sehingga musuh alami dapat berperan dalam pengendalian hama. Penggunaan tanaman perangkap untuk pengendalian hama kurang dimanfaatkan oleh petani mungkin karena perbedaan waktu tanam merepotkan bagi petani dan petani kurang tertarik karena hama masih tampak banyak di lingkungan pertanaman utamanya walaupun sudah tidak merugikan tanaman utamanya. Petani umumnya sudah terbiasa mengendalikan hama dengan menggunakan insektisida yang dapat menurunkan populasi hama dengan sangat nyata dan cepat.

DAFTAR TANAMAN PERANGKAP yang DAPAT DIMANFAATKAN UNTUK MENGENDALIKAN SERANGGA HAMA

TANAMAN PERANGKAP
TANAMAN UTAMA
METODE PENANAMAN
HAMA YANG DIKENDALIKAN
Alfalfa
(Meyer, 2003)
KapasStrip tumpangsariLygus bug
Basil dan marigold
(MMSU, 2003)
Bawang putihPerbatasan tanamanThrips
Tanaman Castor
( Ricinus communis )
(Hasse, 1986; 1987)
KapasPerbatasan tanamanHeliotis sp.
Tanaman Chervil
(Ellis, Bradley, 1996)
Sayur-sayuran
Hiasan
Di antara tanamanSiput
Kubis cina,
sawi, dan lobak
(Facknath, 1997; Muniappan, Lali, 1997)
KubisTanam di setiap 15 baris kubisKubis webworm
Kutu hopper
Mustard kutu
Buncis dan kacang lainnyaJagungRow tumpangsariWereng
Daun kumbang
Penggerek batang
Fall ulat grayak
Chickpea
(Grundy; Pendek, 2003)
KapasBlok perangkap tanaman pada
20 tanaman / meter persegi (Brown, 2002)
Heliotis sp.
Sawi
(Boucher; Durgy, 2003)
KubisPerbatasan tanamanDiamondback ngengat
Jagung
(Hasse, 1986; 1987)
KapasRow campuran, ditanam di
setiap 20 baris kapas
atau setiap m 10-15
Heliotis sp.
Kacang Tunggak / Kacang panjang
(CIKS, 2000)
KapasRow tumpangsari di setiap
5 baris kapas
Heliotis sp.
Desmodium
(ICIPE, 2003)
Jagung
Kacang tunggak
Jawawut
Sorgum
Row tumpangsariPenggerek batang padi
Striga
Dill dan lovage
(Ellis, Bradley, 1996)
TomatRow tumpangsariTomat hornworm
Kacang buncis
(Ellis, Bradley, 1996)
KedelaiRow tumpangsariMeksiko kacang kumbang
Kuda lobak
(DA, Filipina, 1997)
KentangTumpangsariKumbang kentang Colorado
Hot ceri / lada
(Boucher; Durgy, 2003)
PaprikaPerbatasan tanamanLada belatung
Indian Sawi
(Cornell University, 1995)
KubisStrip tumpangsari di
antara plot kubis
Kubis kepala ulat
Marigold
(Marigold Perancis dan Afrika)
(Vann; Kirkpatrick, Cartwright, 2004)
(Dofour; Guerena, Earles, 2003)
Solanaceous
Cruciferaceae
Legum
Cucurbits
Row / strip tumpangsari Nematoda
Medic, Medicago litoralis
(Miles, C.;. Et al, 1996)
WortelStrip tumpangsari di antara
wortel plot
Wortel root terbang
Rumput Napier
(ICIPE, 2003)
JagungTumpangsari
Perbatasan tanaman
Penggerek batang padi
Nasturtium
(Ellis, Bradley, 1996)
KubisRow tumpangsariAfid
Kutu kumbang
Mentimun kumbang
Squash anggur penggerek
Okra
(Hasse, 1986; 1987)
KapasPerbatasan tanamanBunga kapas kumbang
Bawang merah dan bawang putih WortelBorder tanaman atau penghalang
tanaman di antara petak Wortel root terbang
Thrips
Lobak
(Ellis, Bradley, 1996)
Kubis keluargaRow tumpangsariKutu kumbang
Root belatung
Gandum hitam
(OIKOS, 2003)
KedelaiRow tumpangsariJagung belatung bibit
Sesbania
(Naito, 2001)
KedelaiRow tumpangsari pada jarak
15 m terpisah
Stink bug
Sicklepod
(OIKOS, 2003)
KedelaiStrip tumpangsariVelvet kacang ulat
Green bau bug
KedelaiJagungRow tumpangsariHeliotis sp.
Rumput Sudan / Rumput gajah
(ICIPE, 2003) 
JagungTumpangsari
Perbatasan tanaman
Penggerek batang padi
Bunga matahari
(CIKS, 2000)
KapasRow tumpangsari di setiap
5 baris kapas
Heliotis sp.
Tansy
(DA, Filipina, 1997)
KentangTumpangsariKumbang kentang Colorado
Tembakau
(Hasse, 1986; 1987)
KapasRow campuran, ditanam di
setiap 20 baris kapas
Heliotis sp.
Tomat
(Makumbi, 1996)
KubisTumpangsari (Tomat ditanam
2 minggu depan di perbatasan petak ')
Diamondback ngengat
Rumput Vertiver
(Van de Berg, tanpa tahun)
JagungPerimeter tanamanPenggerek batang jagung
AlfalfaStroberyTumpangsariwestern tarnished plant bug (WTPB)
Mengurangi WTPB rata-rata 70%
Bunga matahariKacang tanahTumpangsariPenggerek Buah pada tanaman kacang tanah
Tanaman jarak kepyar, sorgum, dan kacang hijauTembakauTumpangsariHama hama tembakau


Gambar tanaman perangkap.
 Alfafa
Bagian Alfafa
 

Alfafa di sela sela tanaman Strobery

Tanaman Basil dan marigold
 

Basil dan marigold 

Tanaman bunga matahari
 

Tanaman bunga matahari diantara tanaman kacang tanah

Tanaman Castor
 

Tanaman Castor 

Tanaman Jarak
 

Bagian tanaman Chickpea 

Chickpea
 

Biji Chickpea 

Tanaman Chervil 
 

Tanaman Chervil 

Tanaman desmodium
  

Tanaman desmodium 

Dill dan lovage 
  

Dill dan lovage 

Tanaman lada
  

Tanaman Kacang buncis

Tanaman lobak
  

Marigold 

Marigold
  

Madicago 

Madicago
  

Sicklepod 

Sicklepod
  

Medic, Medicago litoralis 

Nastrutium
  

Nastrutium 

Okra
  

Buah okra

Rumput gajah
  

rumput vertivel 

Sesbania
  

Sesbania 

Tansy
  

Tansy 
 


Perimeter perangkap tanam (perangkap perbatasan tanam) adalah penanaman tanaman perangkap sepenuhnya di sekitar tanaman yang dibudidayakan ( tanaman utama). Ini mencegah serangan hama yang berasal dari sisi luar lahan pertanaman. Hama hama sejenis yang berada diluar lahan pertanian akan tertarik pada tanaman perangkap dibandingkan dengan tanaman utama. 

Tumpangsari dalam Baris Tanaman adalah penanaman tanaman perangkap di baris dalam tanaman utama. 

Campuran adalah menggabungkan kedua parimeter perangkap ( Perangkap perbatasan dan Row tumpangsari )

Tips untuk sukses perangkap tanam
1. Buatlah rencana pertanian. Ini akan memandu Anda di mana tanaman perangkap harus ditaburkan atau ditanam.
2. Belajarlah untuk mengetahui dan mengidentifikasi hama yang menyerang atau yang berpotensi menyerang tanaman      utama
3. Pilih tanaman perangkap yang lebih menarik bagi hama dibandingkan dengan tanaman utama. Mintalah bantuan dari      petani setempat atau bisa mencari informasi di internet. Banyak informasi yang dapat anda peroleh
4. Monitor tanaman Anda secara teratur.
5. Segera mengendalikan hama yang ditemukan pada tanaman perangkap. Pangkas atau menghapus tanaman      perangkap setelah populasi hama tinggi, jika tidak mereka akan berfungsi sebagai tempat berkembang biak dan       hama akan menyerang seluruh peternakan Anda.
6. Bersiaplah untuk mengorbankan tanaman perangkap Anda sebagai tanaman awal dan menghancurkan mereka      sekali serangan hama tinggi.
7. Pilih tanaman perangkap yang mempunyai nilai ekonomi lebih rendah daripada tanaman utamanya
8. Kontrol selalu tanaman perangkap jangan sampai tanaman habis dimakan oleh serangga hama. Anda bisa      menyiapkan sulaman jika diperlukan. Perlu diperhatikan bahwa apabila tanaman perangkap habis atau mati maka      serangga hama akan menyerang tanaman utama.
9. Selalu menyimpan catatan pertanian.
Tanaman perangkap digunakan untuk melindungi tanaman komoditas utama( tanaman yang dibudidayakan ) dari hama utama atau hama sekunder. Tanaman perangkap dapat menjadi spesies tanaman yang berbeda, variasi, atau hanya sebuah tahap pertumbuhan yang berbeda dari spesies yang sama sebagai tanaman utama, selama tanaman perangkap lebih disukai serangga hama dibandingkan tanaman utama.

Tanaman perangkap akan semakin efektif apabila dapat mengumpulkan hama utama yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman utama. Penggunaan tanaman perangkap akan lebih ekonomis apabila mudah ditanam dan dipelihara, dan akan lebih menguntungkan apabila tanaman perangkap juga mempunyai nilai jual ( kita mempunyai dua keuntungan) dan tanaman perangkap dapat di tanam pada daerah yang sempit diantara tanaman utama.
Yang paling penting adalah tanaman perangkap tidak boleh bersaing dengan tanaman utama. Bersaing untuk memperoleh pupuk, cahaya, air, atau tanaman perangkap mengeluarkan alelopati yang mengganggu tanaman utama.

Perimeter Trap tanam melibatkan penanaman jenis tumbuhan yang menarik sehingga benar-benar mengelilingi tanaman utama seperti dinding benteng. Sebuah tanaman perangkap penghalang di semua sisi berguna untuk melindungi tanaman dari serangan hama yang mungkin datang dari beberapa arah. Penanaman tanaman perangkap akan lebih efektif apabila menggunakan metode campuran yaitu tanaman perangkap ditanam disekeliling tanaman utama; tanaman perangkap juga ditanam di antar barisan tanaman utama. Penanaman tanaman perangkap di sekeliling tanaman utama untuk mengurangi serangga hama dari luar. Penanaman tanaman perangkap di antara barisan tanaman utama untuk mengalihkan serangga hama yang sudah masuk ke lahan pertanian kita.

Dan yang paling penting adalah apabila serangga hama sudah tertarik dan memakan tanaman perangkap maka tugas kita dalah membunuh serangga hama yang ada di tanaman perangkap baik secara manual maupun dengan menggunakan pestisida. Yang disemprot adalah tanaman perangkapnya, bukan tanaman utamanya. Cara ini akan mengjhemat penggunaan pestisida.


Keuntungan menggunakan metode tanaman perangkap adalah :
  1. Ramah lingkungan dan yang paling utama adalah mengurangi kerusakan tanaman utama dari serangan serangga hama sampai 75 %.
  2. Dapat melestarikan musuh alami serangga hama sehingga keseimbangan ekosistem di lahan akan selalu terjaga
  3. Kualitas hasil panen semakin lebih baik karena sedikit residu pestisida yang melekat pada hasil panen
  4. Mengurangi penggunaan pestisida
  5. Mengurangi biaya produksi dan tenaga
  6. Tingkat efektifitas tanaman perangkap untuk mengendalikan serangga hama tinggi
 

REFERENSI 
http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/pemanfaatan-senyawa-kimia-alami-sebagai-alternatif-pengendalian-hama-tanaman/
http://www.linkpdf.com/ebook-viewer.php?url=http://balittas.litbang.deptan.go.id/ind/images/buletin/nurindah.pdf
http://www.linkpdf.com/download/dl/tanaman-perangkap-untuk-pengendalian-serangga-hama-tembakau-.pdf
http://budisoegi.wordpress.com/2009/10/27/pemanfaatan-tanaman-perangkap-untuk-pengendalian-hama/
http://en.wikipedia.org/wiki/Trap_crop
http://www.oisat.org/control_methods/cultural__practices/trap_cropping.html
http://www.hort.uconn.edu/ipm/veg/htms/ptcworks.htm
http://www.nysaes.cornell.edu/pp/resourceguide/appendix/appendix_c.php
http://ofrf.org/funded/highlights/swezey_01s44.html
http://ufinsect.ifas.ufl.edu/stink_bugs/bug_trap_crops.htm
http://www.icrisat.org/vasat/learning_resources/crops/groundnut/gnut_insectpest/html/m2l3/index.html
http://www2.dpi.qld.gov.au/cropresearch/14909.html
http://www.omafra.gov.on.ca/english/crops/hort/news/vegnews/2009/vg1009a1.htm

Selasa, 09 April 2013

MENGENDALIKAN HAMA PADA TANAMAN PADI SECARA TERPADU MENGGUNAKAN PRINSIP INTEGRATED PEST MANAGEMEN




Memperhatikan berbagai efek negatif yang terjadi dari penggunaan bahan kimia dalam dunia pertanian, maka mulai diadakan penelitian-penelitian yang mengarah kepada penggunaan jasad hidup untuk penanggulangan kerusakan di dunia pertanian, yang dikenal dengan pengendalian biologi (”Biologic control”). Dalam metode ini dimanfaatkan serangga dan mikro organisme yang bersifat predator, parasitoid, dan peracun. Usaha untuk meningkatkan hasil pertanian terus berlanjut dengan memperhatikan aspek keamanan lingkungan, kesehatan manusia dan ekonomi, maka muncul istilah ”integrated pest control”, integrated pest control dan selanjutnya menjadi integrated pest management (IPM), yang dikenal dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) juga ada istilah Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

Sebelum kami menjelaskan cara pengendalian hama tanaman padi secara terpadu maka sebelum membahasnya lebih lanjut kami menyarankan untuk mempelajari " Managemen Pengendalian Hama dan Penyakit Secara Terpadu " dengan klik disini. Upaya -upaya yang dilakukan adalah bagaimana caranya supaya jumlah hasil produksi lahan-lahan pertanian dapat meningkat dan tentu saja dengan biaya produksi yang lebih sedikit sehingga keuntungan yang diperoleh petani dapat meningkat. Untuk alasan itulah artikel ini ada dan kami sajikan kepada anda-anda sekalian.


HAMA PADI
1. Tikus 
Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan spesies dominan pada pertanaman padi. Selain itu, dapat pula ditemukan tikus semak R. Exulans. Hama tikus perlu dikendalikan seawal mungkin, mulai dari pengolahan tanah sampai tanaman dipanen. Telah banyak cara pengendalian hama tikus sawah yang dilakukan petani, namun ketepatan pemilihan waktu pengendalian, sasaran habitat, dan teknologi yang digunakan belum mencapai sasaran. Karena itulah maka populasi tikus hampir disemua daerah sentra pertanaman padi sawah semakin meningkat. Beberapa komponen teknologi pengendalian hama tikus sawah yang bisa dilakukan adalah:

a. Sanitasi lingkungan dan manipulasi habitat
© Membersihkan dan memperbaiki lingkungan di sekitar areal pertanaman padi, seperti: semak belukar, tanggul-      tanggul saluran irigasi dan pematang sawah sehingga tikus merasa tidak nyaman untuk berlindung dan berkembang      biak
© Memperkecil ukuran pematang sawah (tinggi dan lebar + 30 cm) dapat menghambat perkembangan populasi tikus      karena tikus tidak nyaman untuk membuat sarang

b. Kultur teknis
Musim tanam yang teratur dan terjalinnya kebersamaan antar petani dalam setiap kelompok tani serta kebersamaan antar kelompok tani dalam satu hamparan sehingga tumbuh kebiasaan bertanam serentak, penanaman varietas yang sama setiap musim (waktu panennya sama), pengaturan pola tanam, waktu tanam, dan jarak tanam.
© Pengaturan pola tanam. Pada lahan sawah irigasi dilakukan pergiliran tanaman, seperti: padi-padi-palawija,      padi- padi- bera, padi-palawija ikan-padi. Ini akan mengakibatkan terganggunya siklus hidup tikus akibat      terbatasnya ketersediaan makanan.
© Pengaturan waktu tanam. Penanaman padi sawah yang serentak pada satu hamparan (minimal 100 hektar) dapat      meminimalkan kerusakan karena serangannya tidak terkonsentrasi pada satu lokasi tetapi tersebar sehingga      kerusakan rata-rata akan lebih rendah
© Pengaturan jarak tanam. Bertujuan menciptakan lingkungan terbuka sehingga tikus tidak merasa puas dalam mencari     makanan. Penanaman padi agak jarang atau sistem tanam jajar legowo (bershaf) kurang disukai oleh tikus sawah
    (suasana terang) karena takut adanya musuh alami (predator).

c. Fisik dan mekanis
Secara fisik dengan mengubah lingkungan fisik seperti: suhu, kelembaban, cahaya, air, dll sehingga tikus menjadi jera atau mengalami kematian karena adanya perubahan faktor fisik.Secara mekanis, dengan menangkap dan membunuh tikus secara langsung atau menggunakan alat seperti cangkul, kayu pemukul, alat perangkap, penyembur api (solder) dan emposan atau fumigasi. Kelebihan cara ini, yaitu:
(1) sederhana dan tidak memerlukan alat yang mahal;
(2) Dapat menurunkan populasi tikus secara nyata; dan
(3) meningkatkan kebersamaan petani.

Sedangkan kelemahan cara ini, yaitu: 
(1) memerlukan tenaga kerja relatif banyak;
(2) memerlukan kebersamaan antar petani; dan
(3) menimbulkan kerusakan lingkungan seperti terbongkarnya pematang sawah, rusaknya saluran irigasi, tanggul, dsb.
® Gropyokan massal atau berburu tikus bersama. Mudah dilaksanakan, biaya murah, dan efektif menurunkan populasi     hama tikus, tetapi membutuhkan kebersamaan.
® Alat perangkap. Bubu perangkap untuk menangkap tikus dalam keadaan hidup, dan umpan beracun untuk     menangkap tikus sampai tikus tersebut mati
® Solder dan emposan. Solder untuk menyeburkan api dan udara panas ke dalam lubang atau sarang tikus sehingga     tikus keluar atau mati dalam sarangnya. Untuk lebih efektifnya alat ini dapat digunakan belerang yang diletakkan     pada mulut sarang tikus sehingga hembusan asap belerang yang panas dapat meracuni tikus yang ada dalam sarang.

d. Biologis
Musuh alami tikus biasanya adalah: burung hantu, ular, anjing, dan kucing. Numun, musuh alami ini pada sawah irigasi sudah jarang ditemukan.

e. Kimiawi
Petani sudah banyak mengetahui pengendalian secara kimiawi ini, seperti rodentisida, fumigasi, dll. Namun cara ini hanya dianjurkan bila populasi tikus sangat tinggi dan cara lain sudah dilaksanakan.


f. Penerapan sistem SPBL dan SPB
Penangkapan tikus terutama di daerah endemis dapat dilakukan dengan sistem perangkap bubu (SPB) atau Trap Barrier System (TBS). Tanaman perangkap adalah padi yang ditanam pada lahan berukuran 20x20 m atau 50x50 m di tengah hamparan. Penanaman dilakukan 3 minggu lebih awal, pada saat petani disekitarnya membuat pesemaian. Tanaman perangkap dipagar dengan plastik setinggi 60 cm, disetiap sisi pagar ditaruh satu unit perangkap bubu berukuran 25x25x60 cm. Perangkap bubu dapat dibuat dari ram kawat atau kaleng bekas minyak goreng. Di sekeliling tanaman perangkap dibuat parit agar bagian bawah pagar selalu tergenang air, sehingga tikus diharapkan tidak dapat melubangi pagar atau menggali lubang di bawah pagar. Perangkap bubu perlu diperksi setiap hari sehingga tikus atau hewan lainnya yang terperangkap tidak mati dalam bubu. Setiap SPB mempunyai pengaruh sampai radius
200 m (hallo effect) sehingga satu unit SPB diperkirakan mampu mengamankan pertanaman padi seluas 10-15 ha dari serangan tikus.
Sistem perangkap bubu linier (SPBL) atau LTBS (Linear Trap Barrier System) digunakan untuk penangkapan tikus migran yang berasal dari sekitar sawah bera, rel kereta api, perkampungan atau saluran irigasi. Terdiri dari pagar plastik setinggi 50 cm sepanjang minimal 100 m dan pemasangan perangkap bubu setiap jarak 20 m. SPBL
dipasang diantara pertanaman padi dengan habitat tikus, untuk jangka waktu 3-5 hari. SPBL dapat dipindahkan ke lokasi lain. Teknologi ini akan berhasil jika dapat diterapkan pada hamparan relatif luas dengan melibatkan beberapa petani sehamparan. Keberhasilan pengendalian hama tikus sangat tergantung pada kearifan memadukan komponen teknologi tersebut. Pada Tabel 2 disajikan model strategi pengendalian hama tikus terpadu yang dapat disesuaikan dengan lingkungan spesifik.


TIPS DAN TRIK MENGATASI HAMA TIKUS 
Hama tikus adalah mahluk yang cerdas. Tikus mempunyai karakterisitik sebagai berikut :
1. Tikus mudah jera, tikus tidak akan melakukan hal yang sama apabila dia telah mempunyai pengalaman buruk      terhadap satu hal. Dengan mengetahui sifat ini petani akan mencari cara lain ketika cara sebelumnya belum sukses       menjerat tikus.
2. Tikus selalu berhati-hati dalam memilih makanan. Kebiasaan tikus dalam memakan sesuatu biasanya dicicipi terlebih      dahulu, tikus tidak akan langsung memakan makanan yang ada didepannya walaupun mereka lapar. Untuk itu      kepada para petani hendaknya seminim mungkin racun yang terkandung didalam jebakan memiliki rasa yang tidak      disukai tikus.
3. Tikus mempunyai penciuman yang tajam. Sebelum memakan umpan tikus akan menjilat dan mencium calon      makanannya, apabila calon makanannya mengandung bau-bau manusia maka jangan berharap umpannya dimakan      oleh tikus.
4. Tikus mempunyai kebiasaan melalui jalan yang sama. Kebiasaan tikus yang satu ini dapat dimanfaatkan oleh petani     untuk menangkap tikus karena jalur yang pernah dilalui oleh tikus akan dilaluinya lagi. Sifat ini karena tikus     mempunyai wilayah ekspansinya sendiri-sendiri dengan mencium bekas bau badannya.
    Berdasarkan pengalaman penulis dengan prilaku ini, penulis pernah mencoba memberi aroma parfum milik kami dan     kami semprotkan ke jalan tikus. Jalan itu kami ketahui ketika kami sempat melihat sekelebatan ( tikus rumah ). Pada     waktu yang berbeda memang kami sengaja mengamatinya ternyata tikus menjadi kebingunan ketika mendekati     daerah yang kami semprot dengan parfum tersebut dan berbalik arah kembali ke jalannya semula dan tidak jadi     melanjutkan perjalanannya. Pengalaman kami ini sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan tikus.Misalnya     dengan memilih pestisida yang memiliki bau menyengat.


2. Penggerek Batang Padi
Penggerek batang merusak tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan, dan ditemukan pada padi sawah, padi air dalam dan padi gogo. Empat jenis penggerek batang padi yang umum ditemukan adalah; Penggerek batang padi kuning (Tryporyza incertulas), penggerak batang padi bergaris (Chilo suppressalis), penggerek batang padi putih (Tryporyza innotata), dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens). Kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh semua jenis hama penggerek batang adalah sama, yaitu matinya pucuk tanaman pada stadia vegetatif (sundep) dan malai yang keluar hampa pada stadia generatif (beluk).
Pengendaliannya adalah:
® Panen padi sawah dengan cara memotong tunggul jerami rendah supaya hidup larvanya terganggu dimana larva yang ada dibagian bawah tanaman tertinggal dan membusuk bersama jerami.
® Pengendalian mekanis dapat dilakukan dengan mengambil kelompok telur pada saat tanaman berumur 10-17 hari setelah semai, karena hama penggerek batang sudah mulai meletakkan telurnya pada tanaman padi sejak di pesamaian.
® Harus diamati intensif sejak semai sampai panen. Kalau populasi tinggi dapat dikendalikan dengan insektisida butiran (karbofuran, fipronil) dan insektisida cairan (dimehipo, bensultap, amitraz, dan fipronil) yang diaplikasikan bila
populasi tangkapan ngengat 100 ekor/minggu pada perangkap feremon atau 300 ekor/minggu pada perangkap lampu. Insektisida butiran diaplikasikan bila genangan air dangkal dan insektisida cair bila genangan air tinggi.
® Penangkapan massal ngengat jantan dengan memasang perangkap feromon 9- 16 perangkap setiap hektar untuk mengamati spesies dominan.


3. Wereng coklat atau wereng punggung putih
Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.) memiliki tingkat kemampuan reproduksi yang tinggi jika keseimbangan populasinya terganggu oleh penanaman varietas peka, perubahan iklim (curah hujan), maupun kesalahan aplikasi insektisida yang menyebabkan resurjensi hama. Wereng coklat mampu merusak tanaman padi dalam skala luas pada waktu yang relatif singkat. Wereng coklat dan wereng punggung putih (Sogatella furcifera H.) seringkali menyerang tanaman secara bersamaan pada tanaman stadia vegetatif. Varietas yang tahan wereng coklat belum tentu tahan wereng punggung putih. Oleh karena itu, pengendalian wereng coklat harus dimulai sebelum tanam. Pengendaliannya adalah:
® Di daerah endemis wereng coklat, pada musim hujan harus ditanam varietas tahan wereng coklat.
® Gunakan berbagai cara pengendalian, mulai dari penyiapan lahan, tanam jajar legowo, pengairaninttermitten, takaran pupuk sesuai BWD.
® Monitor perkembangan hama wereng punggung putih dan perimbangan populasi wereng coklat dan musuh alami pada umur 2 minggu setelah tanam sampai 2 minggu sebelum panen.
Pengambilan keputusan pengendalian wereng coklat berdasarkan ambang kendali perlu mempertimbangkan populasi musuh alami, dengan cara:

- Lakukan pengamatan pada 20 rumpun tanaman secara diagonal. Hitung jumlah wereng coklat + wereng punggung putih, predator (laba-laba, Opionea, Paedorus, dan Coccinella), dan kepik Cyrtohinus. Hasil pengamatan kemudian dijabarkan ke dalam rumus:
          A – (5B + 2C)
D = --------------------
              20
Dimana:
A = Jumlah wereng coklat + wereng punggung putih per 20 rumpun tanaman
B = Jumlah predator per 20 rumpun tanaman
C = Jumlah kepik Cyrthorinus per 20 rumpun tanaman
D = Jumlah wereng terkoreksi

- Penggunaan insektisida didasarkan pada jumlah wereng terkoreksi dan umur tanaman, yaitu bila: Nilai D >5 ekor pada saat tanaman berumur <40 HST, atau >20 ekor umur 40 HST
- Insektisida yang dianjurkan adalah fipronil (untuk biotipe 1 atau 2) dan imidakloprid (untuk biotipe 1, 2, 3, dan 4), atau insektisida rekomendasi setempat.

- Bila populasi hama dibawah ambang ekonomi, gunakan insektisida botani atau jamur ento-mopatogenik (Metarhizium annisopliae atau Beauveria bassiana)

PERKEMBANGAN WERENG COKLAT BIOTIPE 4 
Biotipe didefinisikan sebagai suatu populasi atau individu yang dapat dibedakan dari populasi atau individu lain bukan karena sifat morfologi, tetapi didasarkan kepada kemampuan adaptasi, perkembangan pada tanaman inang tertentu, daya tarik untuk makan, dan meletakkan telur.

Dari pengalaman yang panjang, yakni sejak munculnya serangan wereng coklat di Indonesia yang pertama kali pada tahun 1930 (: 77 tahun), wereng coklat terbukti mampu beradaptasi secara terus menerus bila dipelihara pada suatu varietas dan mampu mematahkan ketahanan varietas serta menghilangkan daya seleksi varietas yang ditempatinya.
Oleh karena itu, dalam mengendalikan wereng coklat perlu adanya pergiliran varietas. Hal ini dilakukan untuk menunda seleksi terarah yaitu untuk menunda seleksi terarah yaitu untuk menunda terjadinya biotipe baru. Yang dimaksud, pergiliran varietas adalah bagian dari pergiliran tanaman, tetapi dengan tanaman sejenis yang berbeda ketahanannya.

Sejak diketahuinya ada wereng coklat pada 1930 (biotipe nol), baru timbul wereng coklat biotipe 1 pada tahun 1971. Pada Tahun 1967 diintroduksi varietas padi unggul ajaib IR5 dan IR8 yang tidak mempunyai gen ketahanan terhadap wereng coklat, namun berproduksi tinggi yaitu lebih dari 2 kali lipat produksi padi yang telah ada saat ini. Hanya saja nasinya berasa pera. Lalu, pada tahun 1971 dilepas varietas Pelita I/1 yang tidak mempunyai gen ketahanan terhadap wereng coklat dengan rasa nasi enak dan pulen. Tetapi pada tahun 1972 terjadi ledakan serangan werengt coklat pada varietas-varietas tersebut, hal ini karena ada perubahan biotipe wereng coklat biotipe nol menjadi wereng coklat biotipe 1.

Pada tahun 1975, untuk menghadapi wereng biotipe 1 telah diintroduksi varietas IR26 (gen tahan Bph 1) dari IRRI. Namun demikian, pada tahun 1976 terjadi ledakan wereng coklat yang hebat dibeberapa daerah sentral produksi padi. Hal ini karena ada perubahan wereng coklat biotipe 1 ke wereng coklat biotipe 2.
Pada tahun 1980, untuk menghadapi wereng biotipe 2 diintroduksi lagi varietas IR42 (gen tahan bph2) dari IRRI. Varietas baru ini mampu bertahan dilapangan, namun pada perbesar MP 1981 / 1982 dilaporkan dari kabupaten Simalunggun – Sumatera Utara bahwa IR42 telah terserang wereng coklat. Wereng coklat tersebut diuji dilaboratorium reaksinya terhadap varietas diferensial menyimpang dari sifat biotipe yang etlah diketahui, sehingga wereng tersebut dimasukkan sebagai wreng coklat IR 42 SU (Deli Serdang).

Wereng coklat yang meledak di Sumatera Utara hampir mirip dengan wereng coklat populasi asia selatan (SAA) yang terdapat di India dan Srilangka. Pengujian biotipe terus dilanjutkan dan akhirnya diketahui bahwa wereng yang menyerang IR42 di Sumut adalah wereng coklat biotipe 3.

Untuk menghadapi wereng coklat biotipe 3 telah diintroduksikan varietas padi IR 56 (gen tahan Bph3) pada 1983 dan IR64 (gen tahan Bph1+) tahun 1986. Ternyata varietas IR64 ini menyelamatkan bangsa, karena mempunyai rasa nasi enak, produksi tinggi, dan tahan wereng coklat biotipe 3, sehingga petani menjadi tenang bila menanam varietas tersebut. Sejak itu banyak varietas padi buatan bangsa Indonesia yang dilepas untuk menghadapi wereng coklat di pertanaman, namun varietas baru tersebut dilepas sebagai keturunan dari IR64. Dilain pihak varietas IR56 kurang beruntung karena tak banyak disukai petani.


Antisipasi dini 
Selanjutnya sebagai antisipasi dini kemungkinan terjadinya serangan wereng coklat biotipe 4 maka pada tahun 1991 diintroduksi varitas IR74 (gen tahan Bph3) untuk mempertinggi keragaman genetik pertanaman mozaik. Namun demikian varietas IR74 yang mempunyai rasa nasi pera tidak bisa ditanam petani.

Pada 2005 beredar isu nasional karena terjadi serangan wereng coklat pada tanaman padi di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat terhadap varietas IR64 dan beberapa varietas populer lainnya yang telah patah ketahanannya dari uji ketahanan varietas lanjutan menunjukkan bahwa varietas IR42 (Bph2) sudah patah ketahananya terhadap wereng coklat asal Patih dan Demak dengan reaksi agak peka sampai peka, sedangkan Cisadane dan Ciliwung dan Tukad Petanu berekasi agak tahan sampai agak peka. Varietas IR64, IR6, Cisadane, Sri Putih, Sri Putih Jateng, Ciherang, Bondoyudo, Kalimas dan membramo berekasi agak tahan terhadap wereng coklat asal Patih dan Demak.
Pada 2005 teridentifikasi bahwa pada wereng coklat diPatih masih tetap merupakan biotipe 3 yang mulai berkembang sejak tahun 1995, sedangkan yang di Demak berunah dari wereng coklat biotipe 2 pada 1985 menjadi wereng coklat biotipe 3 pada tahun 2005.

Kestabilan wereng coklat biotipe nol bertahan selama 41 tahun sebelum menjadi wereng coklat biotipe 1. perubahan wereng coklat biotipe 1 ke wereng coklat biotipe 2 hanya dalam waktu 4 tahun, dan perubahan wereng coklat biotipe 2 ke wereng coklat bitipe 3 hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Setelah terjadi wereng coklat biotipe ke 3 sampai 2005 sudah 25 tahun sejak terjadinya wereng coklat biotipe 2 masih tetap didominasi wereng coklat biotipe 3, namun pada 2006 seudah mulai ada wereng coklat biotipe 4 di Asahan, Sumatera Utara.

Keberadaan wereng coklat biotipe 3 yang cukup lama, disebabkan adanya varietas IR64 (Bph 1 +) yang merupakan varietas Durable resistance sebagai penyangga perubahan wereng coklat di biotipe yang lebih tinggi, juga disebabkan tidak berkembangnya varietas IR74 (Bph3) yang akan menyulut terbentuknya biotipe baru.

Untuk keperluan manajemen pengendalian wereng coklat diperlukan data tingkat biotipe dari seluruh sentra produksi padi dan data ketahanan galur / varietas terhadap wereng coklat biotipe 1, 2, 3 dan 4. Identifikasi wereng coklat untuk menentukan tingkat biotipenya terus dilanjutkan terutama pada daerah-daerah yang varietas IR64 telah patah ketahanannya.

4. Siput murbei atau keong mas (Pomace canaliculata Lamarck)
Merupakan hama baru yang penyebarannya cukup luas. Kerusakan terjadi ketika tanaman masih muda. Petani harus menyulam atau menanam ulang pada daerah dengan populasi siput yang tinggi sehingga biaya produksi meningkat.
Pengendaliannya adalah:
® Mencegah introduksi keong mas pada areal baru. Bila keong mas masuk      ke dalam areal sawah baru akan berkembang cepat terutama pada      lahan yang selalu tergenang dan akan sukar dikendalikan.
® Pengendalian harus berkesinambungan, walaupun tanaman sudah berumur     30 HST, pengendalian harus tetap dilakukan untuk mencegah serangan      pada pertanaman berikutnya.
® Secara mekanis dapat dilakukan dengan mengambil dan memusnahkan     telur dan keong mas baik dipesemaian atau di pertanaman secara     bersama-sama, membersihkan saluran air dari tanaman air seperti     kangkung, dan  mengembalakan itik setelah panen. Untuk mengurangi     kegagalan panen, harus menyiapkan benih lebih banyak.
® Keong Mas dapat dimakan, maka belajarlah cara memasak keong mas. Penulis pernah memakan keong mas ini dan     rasanya mirip dengan bekicot hanya saja apabila kurang mengerti cara memasaknya maka akan ada rasa tanah     setelah dimasak. Apabila ini dimanfaatkan untuk menu makanan maka kami menjamin keong mas nantinya bukan     lagi hama tetapi akan dibudidayakan. He.... he..... mudah -mudahan " kabul kajate"
Pengendalain pada stadia vegetatif, dapat dilakukan dengan :
(1) pemupukan P dan K sebelum tanam;
(2) menanam bibit yang agak tua (>21 Hari) dan jumlah bibit lebih banyak;
(3) mengeringkan sawah sampai 7 HST;
(4) tidak mengaplikasikan herbisida sampai 7 HST;
(5) mengambil keong mas atau telur dan memusnahkan;
(6) memasang saringan pada pemasukan air untuk menjaring siput;
(7) mengumpan dengan menggunakan daun talas atau daun pepaya;
(8) Aplikasi pestisida anorganik atau nabati seperti saponin dan rerak sebanyak 20-50 kg/ha

5. Hama ganjur (Orseolia oryzae Wood Mason)
Sering terjadi pada musim hujan terutama pada tanaman padi yang terlambat tanam.
Pengendaliannya adalah:
® Penanaman varietas tahan, seperti: Tajum dll.
® Pengamatan tiap minggu, bila tingkat serangan mencapai 2% maka aplikasikan insektisida karbofuran dengan      takaran 0,5 kg bahan aktif/ha.
® Lakukan pola pengairan yang terkadang tanaman padi diairi- kemudian dikeringkan selama beberapa hari dan tentu     saja dengan memperhatikan vasi tumbuh tanaman. Orseolia sp membutuhkan media air untuk berpindah dari     tanaman satu ke tanaman yang lainnya dan akan mati apabila tidak ada air selama beberapa hari.

6. Lembing batu (Scotinopora coarctata) atau black bugs
Berkembang dengan cepat sejak tanaman berumur 30 HST dan perkembangannya terhambat bila sawah dalam keadaan tergenang. Pengendalian dapat dilakukan pada stadia vegetatif dan generatif. Jika populasi rata-rata telah
mencapai >5 ekor/rumpun maka perlu diaplikasikan insektisida seperti: etripole dan alfametrin

7. Ulat tentara (Mythimna separata)
Menyerang tanaman secara tidak terduga baik stadia vegetaif maupun generatif. Pengendalian dilakukan bila telah terjadi serangan. Dan silahkan baca tips-tips memilih dan menggunakan pestisida pada artikel sebelumnya denganklik disini .

8. Walang sangit (Leptocorisa spp.)
Hanya menyerang tanaman yang sudah berbulir. Pengendaliannya adalah dengan prangkap bangkai, walang sangit akan tertarik dengan aroma-aroma yang tidak sedap seperti aroma bangkai. Kami menganjurkan menggunakan bangkai yuyu ( bletang ( bahasa madura )) yang banyak tersedia di persawahan. Pengendalian dengan insektisida dilakukan jika populasinya melebih ambang kendali yaitu pada saat setelah stadia pembungaan ditemukan rata-rata >10 ekor/rumpun.



REFERENSI
1. Horsfall, J. G. And Ellis, B. C. 1977. Plant disease an advanced treatise. How disease is managed. Vol I. Academic     Press New York, San Francisco, London.
2. Makarim, A.K., I.N. Widiarta, Hendarsih, S., dan S. Abdulrachman. 2003. Petunjuk Teknis Pengelolaan Hara dan     Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Padi Secara Terpadu. Departemen Pertanian;
3. Semangun H. 1990. Penyakit-penyakit tanaman pangan di Indonesia. Gadjah Mada University Press
4. http://visualsunlimited.photoshelter.com/image/I00001SGrN.azp2E
5. http://www.nesmd.com/shtml/22294.shtml
6. http://openpdf.com/ebook/musuh-alami-agrotis-ipsilon-pdf.html
7. Prof. Dr. Ir. Baehaki SE- Penulis adalah peneliti di Balai Besar Penelitian Padi -Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 1 Agustus 2007

Senin, 08 April 2013


PATOGEN SERANGGA HAMA

PENGERTIAN MUSUH ALAMI
Musuh Alami adalah Suatu mahluk hidup (organisme > Predator, Parasitoid dan Patogen) yang dapat mengendalikan hama penyakit dan gulma (OPT)
AGENS ANTAGONIS :
Adalah Mikroorganisme yang mengintervensi/menghambat pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan

PENGENDALIAN ALAMI (Natural Control) :
Adalah Proses pengendalian OPT yang berjalan sendiri tanpa ada kesengajaay yang dilakukan oleh manusia
PENGENDALIAN HAYATI (Biological Control) :
Merupakan taktik pengelolaan hama secara sengaja dengan memanfaatkan atau memanipulasi musuh alami/agens hayati untuk menekan atau mengendalikan OPT
CARA KERJA MUSUH ALAMI (AGENS HAYATI)
Predator :
> Memakan mangsanya secara langsung
Parasitoid :
> Meletakan telur pada tubuh hewan sasaran, kemudian setelah menetas larvanya menghisap cairan tubuh hewan sasaran tersebut hingga mati
Patogen :
> Jamur tersebut masuk kedalam tubuh serangga melalui kulit diantara ruas-ruas tubuh
> Mekanisme penetrasinya dimulai dengan pertumbuhan spora pada kutikala
> Didalam tubuh serangga hifa berkembang dan selanjutnya memasuki pembuluh darah, melalui beberapa proses lebih lanjut di dalam tubuh menyebabkan kematian serangga
PATOGEN SERANGGA HAMA
Seperti manusia dan binatang, serangga juga bisa kena penyakit. Penyakit serangga bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk mengendalikan banyak jenis hama. Penyakit disebabkan oleh organisme patogen. Patogen adalah kategori ketiga musuh alami, disamping Predator dan Parasitoid.
Banyak jenis patogen menyerang serangga. Ada patogen tertentu yang bersifat khusus, berarti patogen itu menyerang hanya satu jenis serangga. Ada juga patogen yang bersifat umum, yang dapat menyerang banyak jenis serangga. Ada banyak jenis patogen, di antaranya jamur (fungi), virus, bakteri, protozoa dan nematoda.
MACAM MACAM PATOGEN SERANGGA HAMA

Jamur Beauveria bassiana (Bb) ( WHITE MUSCARDINE FUNGUS )
Beauveria bassiana, Kelas Hyphomycetes
Jamur Beauveria bassiana menyerang banyak jenis serangga, di antaranya kumbang, ngengat, ulat, kepik dan belalang. Jamur ini umumnya ditemukan pada serangga yang hidup di dalam tanah, tetapi juga mampu menyerang serangga
pada tanaman atau pohon. Memang ada jenis Bb yang menyerang hama tertentu. Misalnya, Bb GB 1 menyerang Helopeltis pada tanaman teh dan dianjurkan untuk mengendalikannya. Jamur Beauveria bassiana berwarna putih , dan biasanya cukup kelihatan pada badan inangnya. Jika dilihat dengan kaca pembesar, spora jamur ini ternyata tumbuh berkelompok, sehingga berupa bola-bola spora.
Daur hidup
Jamur Beauveria bassiana tumbuh pada serangga, kemudian membuat spora (semacam biji). Spora lepas dari jamur dan dibawa angin atau air ke tempat lain. Jika spora kena serangga, bisa tumbuh menjadi jamur lagi.


Gambar Serangga yang diserang oleh Jamur Beauveria bassiana


Jamur Trichoderma ( TRICHODERMA FUNGUS )
Trichoderma koningii, T. harzianum dan T. viride, Kelas Hyphomycetes
Jamur Trichoderma telah banyak dikembangkan untuk pengendalian penyakit jamur akar. Trichoderma koningii umumnya dapat diisolasi dari tanah yang diambil di lapangan, sehingga dapat dikembangkan dan digunakan pada tempat itu juga.
Spora jamur ini sangat cepat berkembang pada suhu 22-230 C. Kumpulan spora Trichoderma mulanya berwarna putih
jernih kemudian menjadi kehijauan dan akhirnya berwarna hijau gelap. Trichoderma tidak mematikan secara
langsung jamur penyebab penyakit tetapi mengusir dari tanah sekitarnya. Hal ini terjadi karena pertumbuhan spora
Trichoderma lebih cepat dibandingkan pertumbuhan spora jamur penyebab penyakit. Jamur Trichoderma lebih
efektif digunakan untuk pencegahan penyebaran penyakit pada tanaman teh yang berada disekitar tanaman yang
sudah terserang berat atau mati akibat jamur.

MENGENDALIKAN PENYAKIT PADA TANAMAN PADI SECARA TERPADU MENGGUNAKAN PRINSIP INTEGRATED PEST MANAGEMANT




Memperhatikan berbagai efek negatif yang terjadi dari penggunaan bahan kimia dalam dunia pertanian, maka mulai diadakan penelitian-penelitian yang mengarah kepada penggunaan jasad hidup untuk penanggulangan kerusakan di dunia pertanian, yang dikenal dengan pengendalian biologi (”Biologic control”). Dalam metode ini dimanfaatkan serangga dan mikro organisme yang bersifat predator, parasitoid, dan peracun. Usaha untuk meningkatkan hasil pertanian terus berlanjut dengan memperhatikan aspek keamanan lingkungan, kesehatan manusia dan ekonomi, maka muncul istilah ”integrated pest control”, integrated pest control dan selanjutnya menjadi integrated pest management (IPM), yang dikenal dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) juga ada istilah Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Sebelum kami menjelaskan cara pengendalian hama tanaman padi secara terpadu maka sebelum membahasnya lebih lanjut kami menyarankan untuk mempelajari " Managemen Pengendalian Hama dan Penyakit Secara Terpadu " dengan klik disini. Dalam Artikel ini juga kami akan berikan informasi mengenai penyakit-penyakit pada tanaman padi.


PENYAKIT TANAMAN PADI
1. Penyakit tungro dan wereng hijau

Serangan penyakit tungro depot meluas dengan cepat terutama bile faktor pendukung seperti tingginya kepadatan populasi serangga penular, tersedianya sumber inokulan, adanya pertanaman varietas peka, pola tanam tidak serempak serta faktor lingkungan yang sesuai. Serangan menyebabkan terjadinya kerusakan tanaman yang tidak bisa sembuh kembali, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas maupun kuantitas produksi.

Penyakit tungro disebabkan oleh dua jenis virus yaitu "Rice Tungro Bacilliform Virus" (RTBV) dan "Rice Tungro Spherical Virus" (RTSV). Penyakit ini disebabkan oleh wereng hijau (Nephotettix virescens) sebagai vektor utamanya. N. virescens ini merupakan spesies yang dominan di daerah Tropis, merupakan vektor paling efektif dan monophagus pada tanaman padi. Gejala serangan penyakit tungro adalah tanaman menjadi agak kerdil, daunnya berwarna kuning sampai orange. Perubahan warna daun dimulai dari ujung daun sampai akhirnya seluruh helai daun. Perubahan warna ini tampak jelas pads daun nomor due dari pucuk tanaman.

Wereng hijau (Nephotettix virescens Distant) umumnya tidak langsung merusak tanaman padi, tetapi bertindak sebagai penular atau vektor penyakit virus tungro. Pengendalian dengan waktu tanam yang tepat dan rotasi varietas telah berhasil di Sulawesi Selatan namun pada kondisi pola tanam tidak teratur, pergiliran varietas kurang berhasil, seperti di Bali dan Jawa Tengah.

Pada saat ini petani dalam bercocok tanam agak berbeda dari beberapa tahun yang lalu, kalau dahulu para petani (petani budidaya padi ) melakukan penanaman serentak dalam satu daerah tertentu selah olah ada yang memberi komando, sedangkan pada akhir-akhir ini petani cenderung sendiri-sendiri dalam melakukan pola bercocok tanamnya. Menurut pengamatan penulis banyak ditemukan tanaman padi yang berbeda jauh waktu penanamannya terbukti pada satu hamparan persawahan yang bersebelahan, lahan satu sudah siap panen sedangkan lahan disebelahnya tanaman padinya dalam proses bunting susu. Hal ini menyebabkan populasi hama atau penyakit di daerah tersebut selalu ada / tidak terputus siklusnya. Jika hal ini terus berlanjut maka keberadaan hama atau penyakit dihamparan tersebut akan selalu ada.
Pengendaliannya adalah:
*  Usahakan menanam serentak minimal 20 hektar

* Gunakan varietas padi yang tahan terhadap virus tungro atau tahan serangga penular wereng wijau.Varietas tahan     wereng hijau menentukan >70% keberhasilan pengendalian tungro

* Buat persemaian setelah lahan dibersihkan dari gulma teki dan eceng gondok. Buang tanaman padi yang terinfeksi     agar tidak menjadi sumber virus.

*  Lakukan penanaman jajar legowo dua atau empat baris dapat menekan pemencaran wereng hijau.

*  Sawah jangan dikeringkan karena merangsang pemencaran wereng hijau sehingga memperluas penyebaran tungro.

* Lakukan pengamatan tungro saat tanaman berumur 2-3 MST. Kendalikan serangga wereng hijau penular virus     dengan insektisida kimiawi yang direkomendasikan bila saat tanaman umur 2 MST ditemukan 5 tanaman terserang     dari 10.000 rumpun tanaman atau umur 3 MST ditemukan 1 tanaman terserang dari 1.000 rumpun tanaman.     Insektisida yang dianjurkan adalah imidacloprid, tiametoksan, etofenproks, dan karbofuran.
* Kendalikan populasi Vektor virus dengan mengendalikan hama wereng hijau.


2. Penyakit hawar daun bakteri (HDB)  pada Tanaman Padi
Penyakit hawar daun bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae dapat terjadi melalui air, angin, dan benih. Infenksi terjadi melalui luka/lubang alami (stomata).
Pengendaliannya adalah:
* Penanaman varietas tahan merupakan salah satu cara pengendalian, namunketahanan verietas saat ini di Indonesia     bersifat spesifik lokasi karena strain HDB berbeda-beda. Saat ini terdapat strain III, IV, V, VI, VII, dan VIII.
*  Amati kerusakan tanaman, bila keparahan penyakit melebihi 20% maka gunakan bakterisida Agrep.
*  Lakukan rotasi tanaman, dan pupuk N yang digunakan jangan berlebihan.

3. Penyakit kerdil Rumput pada tanaman padi
Mewaspadai gejala serangan pada tanaman padi dengan gejala yang mirip penyakit Tungro. Awas, rumpun tanaman padi anda terserang penyakit ‘baru’ yang gejala serangannya mirip serangan tungro. Penyakit ini sudah mulai menyerang tanaman padi di Jawa Barat.

Gejala penyakit 'baru' ini adalah daun tanaman padi berwarna kuning yang mirip dengan gejala penyakit tungro. Secara visual, gejala yang ditunjukkan oleh tanaman terserang penyakit ini adalah: 1) Dalam satu rumpun yang terserang kadang hanya beberapa anakan atau bahkan gejala hanya pada beberapa daun saja, 2) Gejala daun berwarna kuning kadang hanya terjadi pada daun bawah/daun tua, daun yang menguning pada akhirnya akan mengering yang dimulai dari bagian ujungnya, 3) Tanaman yang terserang pada stadia dewasa, menunjukkan daun berwarna kuning-oranye tetapi lebar daun normal dan jumlah anakan serta tinggi tanaman sama dengan tanaman sehat. Hanya saja, apabila tanaman padi terinfeksi sejak awal stadia vegetatif, biasanya tanaman akan mati.

Dari hasil pemantauan tim peneliti BB Padi, penyakit dengan gejala menguning tersebut sudah nampak sejak musim tanam 2006 dan akhir-akhir ini sudah menyebar di Jawa Barat seperti Subang, Karawang, Purwakarta, Bandung, Cianjur, Indramayu, Cirebon, dan Kuningan. Penyakit tersebut juga sudah ditemukan di Serang Banten.

Bahkan menurut Dr. Baehaki peneliti wereng coklat BB Padi, penyakit ini juga sudah ditemukan di daerah Simalungun-Sumatera Utara. Penyakit tersebut dapat menyerang pada varietas populer yang ditanam petani, seperti Ciherang, Mekongga, dan Muncul.

Untuk itulah keberadaan penyakit ini perlu diwaspadai sejak awal pertanaman. Pemantauan di Kebun Percobaan BB Padi Sukamandi pada musim kemarau 2007 pada beberapa varietas padi berumur 5-6 minggu setelah tanam menunjukkan keberadaan penyakit mencapai 16% (Table 1). Bahkan pemantauan di lahan petani sekitar Sukamandi keberadaan penyakit kerdil rumput tipe 2 ini mencapai lebih dari 30%.
Hasil pengujian yang dilakukan di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi menunjukkan bahwa penyakit dengan gejala menguning tersebut bukan penyakit tungro, melainkan satu jenis penyakit yang disebabkan oleh virus kerdil rumput tipe-2 (Rice grassy stunt virus 2). Indikasi ini ditunjukkan oleh hasil pengujian bahwa penyakit ini dapat ditularkan oleh wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.) tetapi tidak ditularkan oleh wereng hijau yang merupakan vektor pembawa penyakit tungro.
Wereng coklat yang telah menghisap cairan pada tanaman terserang penyakit kerdil rumput ini, setelah kurang lebih satu minggu kemudian dapat menularkan virus penyebab penyakit kerdil rumput pada tanaman sehat. Perlu diketahui
bahwa sekali menghisap pada tanaman padi sakit tersebut, maka selama hidupnya wereng coklat tersebut akan membawa dan dapat menyebarkan virus pada tanaman padi lainnya.

Tanaman yang telah terinfeksi tidak dapat disembuhkan. Meskipun tanaman sakit tidak mati dan tetap menghasilkan malai, tetapi pengisian gabahnya akan sangat terganggu. Tanaman sakit tersebut juga akan menjadi sumber inokulum
untuk penularan pada tanaman padi lainnya dengan perantara wereng coklat.

Penyakit semacam ini sebenarnya pernah muncul di Jawa Barat pada sekitar tahun 1980-an, namun seiring dengan menurunnya populasi wereng coklat, penyakit kemudian tidak pernah menjadi masalah dan bahkan hilang dengan
sendirinya. Baru kemudian pada akhir- akhir ini, seiring dengan perkembangan populasi wereng coklat yang meningkat, penyakit kerdil rumput tipe 2 muncul kembali.
Keberadaan penyakit ini perlu diwaspadai karena pada akhir-akhir ini populasi wereng cenderung selalu ditemukan pada pertanaman padi di Jawa Barat dan sekitarnya. Varietas tahan terhadap penyakit virus kerdil rumput tipe 2, sampai saat ini belum ada. Pengendalian penyakit ini hanya dapat dilakukan seiring dengan pengendalian wereng coklat sebagai vektor penyebarnya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi berkembangnya penyakit di lapangan adalah dengan menghilangkan sumber inokulum penyakit di lapangan dan mengendalikan wereng coklat. Menghilangkan sumber
inokulum penyakit di lapangan dapat dilakukan dengan memangkas habis singgang bekas tanaman terserang dan mencabut tanaman terserang yang ditemukan sejak awal pertanaman.

Untuk mengendalikan populasi wereng coklatnya dapat digunakan varietas padi tahan wereng (Memberamo, Widas, Cimelati, Ciapus, Cigeulis), pergiliran varietas, tanam secara serempak, penanaman padi dengan jarak tanam yang
tidak terlalu rapat, dan penyemprotan insektisida. Berbagai insektisida yang efektif untuk pengendalian wereng coklat antara lain yang berbahan aktif: amitraz, bufopresin, fipronil, imidakloprid, karbofuran, karbosulfan, dan tiametoksan.

4. Penyakit Bercak Daun Coklat ( Helmintosporium oryzae )
Gejala kerusakan :
Merusak pelepah daun, malai dan buah yang baru tumbuh serta pada tahap pembibitan yang baru tumbuh. Gejala pada biji / bulir padi adalah bulir berbercak-bercak coklat tetapi masih berisi( bernas) apabila biji tersebut ditanam akan mengalami pembusukan pada saat biji mulai berkecambah dan apabila kecambah tumbuh akan segera mati. Gejala pada tanaman padi dewasa akan mengalami busuk kering.

Pengendaliannya :
1. Merendam benih dengan air hangat dengan penambahan Fungisida
2. Gunakan pemupukan yang berimbang akan mengurangi tingkat serangan
3. Gunakan Varietas padi yang tahan terhadap penyakit bercak daun coklat
4. Semprot dengan menggunakan Fungisida


5. Penyakit Blast ( Pyricularia oryzae )
Gejala kerusakan :
Menyeang daun - buku pada malai dan ujung tangkai malai. Daun/ gelang buku/ tangkai malai/ cabang didekat pangkal malai yang terserang akan menyebabkan pembusukan sehingga bulir padi akan menjadi hampa


Pengendalian :
1. Membakar sisa jerami
2. Menanam varietas padi dengan varietas yang tahan terhadap penyakit ini.
3. Semprot dengan menggunakan Fungisida
4. Pemberian pupuk Nitrogren ( N ) pada masa pertengahan vase vegetatif tanaman dan pada saat fase pembentukan      bulir akan mengurangi tingkat serangan.



REFERENSI
1. Horsfall, J. G. And Ellis, B. C. 1977. Plant disease an advanced treatise. How disease is managed. Vol I. Academic     Press New York, San Francisco, London.
2. Makarim, A.K., I.N. Widiarta, Hendarsih, S., dan S. Abdulrachman. 2003. Petunjuk Teknis Pengelolaan Hara dan     Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Padi Secara Terpadu. Departemen Pertanian;
3. Semangun H. 1990. Penyakit-penyakit tanaman pangan di Indonesia. Gadjah Mada University Press
4. http://visualsunlimited.photoshelter.com/image/I00001SGrN.azp2E
5. http://www.nesmd.com/shtml/22294.shtml
6. http://openpdf.com/ebook/musuh-alami-agrotis-ipsilon-pdf.html
7. Ir. Suprihanto, SP, Msi - Penulis dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi - Dimuat pada Tabloid Sinar Tani edisi     4-10 Juni 2008

Jumat, 05 April 2013

OPT dan Pestisida Nabati serta cara membuatnya

MANAGEMENT Organisme Pengganggu Tanaman ( OPT )
DAN 
MACAM MACAM PESTISIDA NABATI & CARA MEMBUATNYA

 

 

Manajemen Hama dan Penyakit

Manajemen hama dan penyakit, mencakup kegiatan-kegiatan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dapat 
menyebabkan penurunan produksi dan mutu, dengan memperhatikan aspek keamanan produk dan kelestarian lingkungan serta sumber daya alam. Pengendalian OPT dilakukan dengan prinsip Pengendalian Hama Penyakit Terpadu (PHT).

Prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). 
PHT dapat dilakukan dengan cara : 
- Fisik, membunuh organisme pengganggu secara manual 
- Biologi, memanfaatkan peranan agens hayati seperti predator dan patogen 
- Kultur teknis, dengan penanaman varietas toleran, pengaturan jarak tanam, pengaturan drainase, pemupukan berimbang, penjarangan buah, dll. 
- Kimiawi, merupakan alternatif terakhir, dengan mempertimbangkan ambang ekonomi.

Pengendalian dengan Pestisida Hayati 
Pengendalian juga dapat menggunakan pertisida hayati yang akrab lingkungan, disebut demikian karena bahan kimia nabati ini dapat mudah terurai, dapat dibuat oleh petani karena bahan dasar tersedia disekitar lokasi, dan harga pembuatan yang terjangkau.

Kelemahan pestisida nabati adalah : 
a). Daya tahan yang singkat (sangat mudah berubah/terurai), oleh karena itu intensity aplikasi harus direncanakan dengan cermat      supaya efisien, 
b). Konsentrasi larutan yang dihasilkan masih tidak konsisten karena sangat tergantung pada tingkat kesegaran bahan dasar. 
c). Diperlukan standar pengolahan untuk tiap tanaman dan standar aplikasi penggunaan bagi pengendalian OPT.

Beberapa pestisida nabati yang dapat mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman pisang adalah sebagai berikut :

1. Mimba (Azadirachta indica) 
Tanaman ini telah lama dikenal dan mulai banyak digunakan sebagai pestisida nabati menggantikan pestisida kimia. Tanaman ini dapat digunakan sebagai insektisida, bakterisida, fungisida, acarisida, nematisida dan virisida. Senyawa aktif yang dikandung terutama terdapat pada bijinya yaitu azadirachtin, meliantriol, salannin, dan nimbin.

Tanaman ini dapat mengendalikan OPT seperti : Helopeltis sp,; Empoasca sp.; Tungau jingga (Erevipalpis phoenicis), ulat jengkal (Hyposidra talaca), Aphis gossypii, Epilachna varivestis, Fusarium oxyporum, Pestalotia, sp.; Phytophthora sp.; Heliothis armigera, pratylenchus sp.; Nilaparvata lugens, Dasynus sp.; Spodoptera litura, Locusta migratoria, Lepinotarsa decemlineata, palnoccocus citri, Agrotis ipsilon, Callosobruchus chinensis, Alternaria tenuis, Carpophilus hemipterus, kecoa, Crysptolestes pussillus, Corcyra cephalonnomia, Crocidolomia binotalis, Dysdercus cingulatus, Earias insulana, Helycotylenchus sp.; Meloidogyne sp.; Musca domestica, Nephotettix virescens, Ophiomya reticulipennis, Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, Sitophilus sp.; Sogatella furcifera, Tribolium sp.; tungro pada padi, Tylenchus filiformis.

Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan :
a). Biji nimba dikupas / daun dimba ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 20 – 25 gram/l; 
b). Endapkan selama 24 jam kemudian disaring supaya didapat larutan yang siap diaplikasikan; 
c). Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan, untuk pengendalian sedangkan untuk pengendalian nematoda dilakukan dengan cara menyiram di sekitar tanaman yang terserang.

Kulit biji dan kulit batang dapat digunakan sebagai mulsa (dikeringkan).

 

2. Serei Wangi (Andropogon nardus L).

Tanaman ini dikenal sebagai tanaman obat tradisional dan kosmetik, di Jawa dikenal sebagai sere wangi dan di Sunda dikenal sebagai sereh wangi. Tanaman ini dapat digunakan sebagai menggantikan pestisida kimia yaitu untuk insektisida, bakterisida, dan nematisida. 
Senyawa aktif dari tanaman ini berbentuk minyak atsiri yang terdiri dari senyawa sitral, sitronella, geraniol, mirsena, nerol, arnesol, metil heptenol dan dipentena.

Tanaman ini dapat mengendalikan Tribolium sp,; Sitophilus sp.; Callosobruchus sp.; Meloidogyne sp.; dan Pseudomonas sp.

Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : 
a). Daun dan batang ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l; 
b). Kemudian endapkan selama 24 jam kemudian disaring supaya didapat larutan yang siap diaplikasikan;
c). Aplikasi dilakukan dengan cara disemprotkan atau disiramkan; 
d). Sedangkan untuk pengendalian hama gudang dilakukan dengan cara membakar daun atau batang hingga didapatkan abu, lalu sebarkan / letakkan didekat sarang atau dijalur hama tersebut mencari makan.


3. Piretrum (Chysanthemum cinerariaefolim VIS) 
Tanaman ini lebih dikenal sebagai bunga chrysan, banyak ditanam dipekarangan (taman) dan juga sebagai obat mata. Tanaman ini mulai banyak digunakan sebagai pestisida nabati menggantikan pestisida kimia. Tanaman ini dapat berfungsi sebagai insektisida, fungisida, dan nematisida. Senyawa aktif dari tanaman ini terdapat pada bunga bersifat racun kontak yang dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat serangga, menghambat perkembangan serangga dengan penetasan telur.

Aplikasi dari tanaman ini dapat digunakan untuk mengendalikan 
Aphis fabae, Aphis gossypii, Helopeltis sp,; Cricula trifenestrata, Plutella xylostella, Hyalopterus pruni, Macrosephum rosea, Drosophilla spp.; Empoasca fabae, ulat jengkal, Thrips Choristoneuro pinus, Doleschallia polibete, Agrotis ipsilon, Callosobruchus chinensis, Carpophilus hemipterus, kecoa Crysptolestes pussillus, Corcyra cephalonica, Crocidolomia binotalis, Dysdercus cingulatus, Earias insulana, Epilachna varivestis, Fusarium sp; Locusta migratoria, Musca domestica, Nephotettix virescens, Nilaparvata lugens, Ophiomya reticulipennis, Planococcus citri, Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, Sitophilus sp.; Spodoptera litura, Tribolium sp, Helycotylenchus sp.; Meloidogyne sp.; Pratylenchus sp.; Tylenchus filiformis.

Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : 
a). Mahkota bunga dikeringkan lalu ditumbuk;
b). Hasil penumbukan direndam dalam air dengan konsentrasi 20 gram/l selama 24 jam;
c) Hasil endapan kemudian disaring supaya didapatkan larutan yang siap diaplikasikan; 
d). Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan; 
e). Aplikasi dapat dilakukan dalam bentuk tepung yang dicampur dengan bahan pembawa seperti kapur dan bedak atau menggunakan alkohol, aceton atau minyak tanah sebagai pelarut.

 

4. Bakung (Crinum asiaticum L) 
Tanaman ini telah lama digunakan sebagai bahan obat tardisional depresan sistem syarat pusat. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pengganti pestisida yang berfungsi sebagai bakterisida, dan virisida. Senyawa dari tanaman ini mengandung alkaloid yang terdiri dari likorin, hemantimin, krinin dan krianamin.

Tanaman ini bermanfaat untuk menekan /menghambat pertumbuhan Fusarium oxyporum.

Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : 
a). Menumbuk daun dan atau umbi lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l selama 24 jam.
b). Larutan hasil perendaman ini disaring supaya didapat larutan yang siap diaplikasikan. 
d) Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan.


5. Sirih (Piper betle L) 
Tanaman sirih dengan banyak nama daerah merupakan tanaman yang telah lama dikenal sebagai bahan dasar obat tradisional, dapat digunakan sebagai bahan pestisida alternatif karena dapat digunakan/bersifat sebagai fungisida dan bakterisida. Senyawa yang dikandung oleh tanaman ini antara lain profenil fenol (fenil propana), enzim diastase tanin, gula, amilum/pati, enzim katalase, vitamin A,B, dan C, serta kavarol. Cara kerja zat aktif dari tanaman ini adalah dengan menghambat perkembangan bakteri dan jamur.

Tanaman ini walaupun belum secara efektif dapat mengendalikan genus Phytophthora sp,; Fusarium oxyporum, Streptococcus viridans dan Staphylococcus aureus.

Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : 
a). Daun sirih ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l selama 24 jam,
b). Setelah itu disaring supaya didapatkan larutan yang siap diaplikasikan. 
c). Aplikasi dilakukan dengan cara penyiraman larutan semprot ke sekitar tanaman yang sakit atau dengan mengoleskan larutan pada bagian yang terserang (sakit).


6. Mindi (Melia azedarach L) 
Tanaman mindi dikenal dengan nama mindi kecil, banyak digunakan dalam industri sebagai bahan baku sabun. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pestisida nabati karena dapat bersifat sebagai insektisida, fungisida, dan nematisida. Senyawa aktif yang dikandung antara lain margosin (sangat beracun bagi manusia), glikosida flavonoid dan aglikon.

Tanaman ini dapat digunakan untuk mengendalikan / menekan OPT seperti Hidari irava, Spodoptera litura, Spodoptera abyssina, Myzus persicae, Orsealia oryzae, Alternaria tenuis, Aphis citri, Bagrada crucifearum, Blatella germanica, Kecoa, Jangkrik, Kutu, Belalang, Heliothis virescens, H. Zea; Helminthosporium sp.; Holocrichia ovata, Locusta migratoria, Meloidogyne javanica, Nephotettox virescens, Nilaparvata lugens, Ostrina furnacalis, Panochychus citri, Sagotella furcifera, Tribolium castaneum, Tryporyza incertulas, Tylenchus filiformis.

Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : 
a). Biji mindi dikupas / daun dimba ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l selama 24 jam, 
b). Larutan yang dihasilkan disaring supaya didapatkan larutan yang siap diaplikasikan. 
c). Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan. Kulit buah dan kulit batang dapat digunakan sebagai mulsa (dikeringkan).


7. Cengkeh (Syzygium aromaticum L)

Tanaman cengkeh telah lama dikenal masyarakat, baik sebagai bumbu dapur maupun bahan dasar industri (rokok, kosmetik, obat) dengan nilai komersial yang tinggi. Sejak jaman kolonial tanaman ini banyak ditanam hampir di seluruh wilayah Indonesia terutama di Maluku dan Sulawesi. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pestisida nabati karena dapat digunakan sebagai insektisida, fungisida, bakterisida, dan nematisida. Senyawa aktif yang dikandung oleh tanaman ini dapat menghambat/menekan pertumbuhan/perkembangan cendawan penyebab penyakit, hama, nematoda dan bakteri.

OPT yang dapat dikendalikan antara lain : Fusarium sp.; Phytophthora sp.; Rigidoporus sp.; Sclerotium sp.; Dacus sp.; Stegobium panicum. Pseudomonas solanacearum, Radopholus similis, Meloidogyne incognita.


Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan :
a). Daun, bunga atau tangkai bunga ditumbuk hingga menjadi tepung, dapat juga diekstak (laboratorium),
b). Sebarkan tepung/minyak tersebut pada tanaman atau sekitar perakaran yang terserang dengan dosis 50 gram/pohon, jika menggunakan serasah daun cengkeh dosis yang digunakan 100 gram/pohon. 
c). Pada tanaman dengan serangan ringan dapat dilakukan penyayatan pada akar kemudian diolesi dengan tepung/ minyak cengkeh.

 
 

Slam tani
disarikan oleh

Dwi Hartoyo,SP

DIAGNOSIS PENYAKIT NON PARASIT

 

Pada postingan terdahulu kami sudah menjelaskan berbagai macam dan gerjala serta penyebab penyakit yang disebabkan oleh microorganisme ( silahkan klik disini ). Pada kesempatan kali ini kami akan menjelaskan beberapa diagnosis penyakit yang disebabkan oleh non parasit.

Dalam bidang pertanian, tanah memiliki arti yang lebih khusus dan penting sebagai media tumbuh tanaman darat. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa bahan organik dari organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya. Selain itu di dalam tanah terdapat pula udara dan air yang berasal dari hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak meresap ke tempat lain. Dalam proses pembentukan tanah, selain campuran bahan mineral dan bahan organik terbentuk pula lapisan-lapisan tanah yang disebut horizon. Dengan demikian tanah (dalam arti pertanian) dapat didefenisikan sebagai kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-horizon, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media tumbuhnya tanaman.

Secara umum tanah dapat dipelajari dengan pendekatan pedologi dan pendekatan edaphologi. Ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah beserta faktor-faktor pembentuknya, klasifikasi tanah, survai tanah, dan cara-cara pengamatan tanah di lapang disebut "Pedologi". Dalam hal ini tanah dipandang sebagai suatu benda alam yang dinamis dan tidak secara khusus dihubungkan dengan pertumbuhan tanaman. Walaupun demikian penemuan-penemuan dalam bidang pedologi akan sangat bermanfaat pula dalam bidang pertanian maupun non pertanian misalnya pembuatan bangunan (teknik sipil).

Apabila tanah dipelajari dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman disebut "edaphologi". Dalam edaphologi yang dipelajari adalah sifat-sifat tanah dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman, serta usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah (fisik, kimia dan biologi), bagi pertumbuhan tanaman seperti pemupukan pengapuran dan lain-lain.

Meningkatnya pengetahuan manusia tentang tanah, maka Ilmu Tanah menjadi Ilmu yang sangat luas, sehingga untuk dapat mempelajarinya dengan baik perlu pengelompokkan lebih lanjut kedalam bidang-bidang Ilmu Tanah yang lebih khusus seperti Fisika Tanah, Kimia tanah, Kesuburan tanah, Mikrobiologi Tanah, Pengawetan Tanah dan Air, Mineralogi Tanah, Genesis dan Klasifikasi Tanah, Geografi Tanah, Survai Tanah dan Evaluasi Lahan.

Tulisan ini lebih menyoroti aspek Kesuburan Tanah dan bagaimana cara mengevaluasi status kesuburan tanah untuk tujuan pengembangan dan peningkatan produksi tanaman pertanian. Kesuburan Tanah mempelajari hubungan unsur-unsur hara dalam tanah dengan pertumbuhan tanaman, pemupukan dan usaha-usaha lain dalam memperbaiki sifat-sifat tanah (sifat fisik, kimia dan biologi tanah) untuk pertumbuhan tanaman.

Sifat fisik tanah yang terpenting adalah : solum, tekstur, struktur, kadar air tanah, drainase dan porisitas tanah, dll. Sifat kimia tanah meliputi : kadar unsur hara tanah, reaksi tanah (pH), kapasitas tukar kation tanah (KTK), kejenuhan basa (KB), kemasaman dapat dipertukarkan (Al dan H), dan lain-lain. Sedangkan sifat biologi tanah meliputi : bahan organik tanah, flora dan fauna tanah (khususnya mikroorganisme penting : bakteri, fungi dan Algae), interaksi mikroorganisme tanah dengan tanaman (simbiosa) dan polusi tanah. Untuk mengetahui dampak kekurangan hara terhadap tumbuhan diperlukan diagnosis. Gejala yang ditimbulkan karena kekurangan unsur hara tanah bagi tumbuhan mirip disebabkan oleh penyakit micro organisme / parasit tumbuhan. Untuk lebih jelasnya diperlukan diagnosis tumbuhan.

Diagnosis merupakan proses identifikasi penyakit, sehingga dengan diagnosis dapat ditemukan nama penyakitnya. Identifikasi dapat dilakukan terhadap gejala yang timbul maupun terhadap penyebab penyakit. Diagnosis merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu. Diagnosis merupakan proses yang sangat penting karena hasil diagnosis akan menentukan keberhasilan suatu pengelolaan penyakit tanaman. Kegagalan suatu diagnosis akan menyebabkan kegagalan dalam tahap pengendalian. Diagnosis merupakan proses yang sangat penting. Hasil diagnosis akan menentukan keberhasilan suatu pengelolaan penyakit tanaman. Kegagalan suatu diagnosis akan menyebabkan kegagalan dalam tahap pengendalian. Sebagai contah klasik dikemukakan oleh Fry (1982) pada pertanaman bit gula dipinggiran kota New York terjadi masalah kekerdilan tanaman. Dugaan awal kekerdilan tersebut disebabkan oleh karena kekurangan hara. Namun ternyata aplikasi pemupukan tidak menyelesaikan masalah. Konsultasi dengan ahli penyakit tanaman menyimpulkan bahwa tanaman terserang oleh nematoda Heterodera schachtii. Dengan demikian diagnosis yang baik harus memiliki efektivitas yang tinggi. Disamping itu diagnosis juga harus cepat. Keterlambatan hasil diagnosis karena berbagai hal dapat menyebabkan penyakit sudah berkembang pesat, sehingga hasil tidak dapat diselamatkan. Disamping efektif dan cepat, diagnosis juga harus murah. Biaya diagnosis yang mahal tidak akan terjangkau oleh petani kecil, sehingga mereka enggan pergi ke klinik untuk memeriksakan tanaman.

GEJALA TUMBUHAN KEKURANGAN UNSUR HARA TANAH

Pengambilan hara yang kurang mencukupi dalam tubuh tanaman mengakibatkan munculnya gejala kekahatan. Prinsip yang harus dipegang dalam mengenali gejala visual adalah:
1. fungsi dasar unsur hara,
2. dinamika atau mobilitas hara dalam tubuh tanman, dan interaksi hara.

 

KEKURANGAN ( DEFICIENCY ) Unsur Nitrogren.
Nitrogen tanah mudah sekali terhanyut dan hilang oleh air. Karena itu problema kekurangan hara mineral tanah yang paling sering terjadi adalah kekurangan unsur Nitrogren. Gejala umum yang ditimbulkan karena kekurangan unsur Nitrogen bagi tumbuhan adalah terhambatnya pertumbuhan dan terjadinya warna hijau pucat menyeluruh. Namun kedua gejala tersebut juga sama dengan gejala yang ditimbulkan karena penyebab yang lain. Untuk memastikan anda bisa mencoba dengan melakukan pemupukan N yang cepat melarut dan tersedia badi tumbuhan misalnya pupuk KNO3.

Gejala visual berkaitan dengan fungsi hara, misalnya hara N diperlukan dalam pembentukan klorofil, maka kekurangan N akan diikuti klorosis daun. Letak munculnya gejala berkaitan dengan sifat mobilitas hara dalam jaringan tanaman, misalnya unsur N dengan cepat dapat dipindahkan dari daun yang tua ke titik tumbuh, sehigga dedaunan yang baru berwarna hijau, sedangkan klorosis muncul pertama kali pada daun yang lebih rendah pada pohon atau yang lebih tua.

Beberapa faktor penting yang juga perlu diperhatikan adalah: intensitas gejala (kekahatan ringan tidak menampakkan gejala), umur tanaman, varitas tanaman, musim, kekahatan beberapa hara secara bersamaan, keracunan, populasi dan kesehatan tanaman.

Kelemahan gejala kekahatan hara:
1. Gejala visual yang serupa dapat disebabkan oleh lebih dari satu hara, misalnya gejala klorosis antar tulang daun pada daun yang muda merupakan watak kekahatan Fe atau Mn.
2. Gejala visual serupa dapat pula disebabkan serangga, penyakit, herbisida atau faktor lainnya, misalnya gejala kekahatan B dan bekas dimakan belalang pada legum hampir sama kenampakannya.
3. Kekahatan hara pada tanaman mungkin bukan karena kekurangan hara dalam tanah, tetapi dapat disebabkan keadaan pH, kelebihan hara lain, atau adanya faktor penghambat pertumbuhan akar.
4. Pada saat menunjukkan gejala visual kekahatan hara, kehilangan hasil secara murad telah terjadi.

Tingkat kecukupan hara dalam jaringan tanaman dapat dibedakan:
Aras kritis (critical value, critical level, critical nutrient concentration) menunjukkan kadar hara dalam jaringan, dibawah kadar ini menampakkan gejala kekahatannya, umumnya pada aras ini hasil panen turun 10%. Jika diberi tambahan hara, tanaman bersifat sangat responsif, dan gejala kekahatan akan menghilang.
Kisaran kritis hara (critical nutrient range): sukar untuk ditentukan secara tepat, merupakan peralihan antara wilayah kekahatan dengan kecukupan hara, hasil tanaman berkurang antar 0% sampai 10%. Pemberian hara akan meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman.
Kisaran kecukupan (sufficiency range, sufficiency level, sufficiency zone): kadar hara cukup untuk mendukung pertumbuhan dan hasil panen yang maksimum, pemberian hara dapat meningkatkan kadar hara dalam jaringan tetapi tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
Aras berlebihan atau meracun (excessive or toxic level): kadar hara terlalu tinggi mengakibatkan penurunan pertumbuhan dan hasil tanaman, jika kadarnya sangat tinggi dapat meracuni tanaman atau mengakibatkan gangguan ketimpangan hara (imbalance of nutrients).

KEKURANGAN Unsur Besi ( Fe )
Gejala Chlorosis dialami di daerah yang bertanah alkalis , tanah berkapur menimbulkan gejala penguningan ( chlorosis ) diantara tulang tulang daun pada pertumbuhan daun daun baru. Hal ini disebabkan karena kekurangan unsur besi yang " tersedia "bagi tanaman. Masalah ini menjadi masalah utama di daerah berkapur. Terkadang gejala yang ditimbulkan juga bisa bervariasi dari yang ringan hingga yang berat . 
1. Chlorosis ringan : Daun daun baru berwarna hijau pucat atau hijau kekuningan diantara tulang tulang daunnya.
2. Chlorosis sedang : Daun daun baru benar benar mempunyai bagian yang berwarna kuning, tetapi tulang tulang daun terutama yang kecil tetapi berwarna hijau normal.
3. Chlorosis parah : Daun daun baru berwarna kuning pucat sampai berwarna seperti jerami, tulang daun tengah / utama sudah tidak berwarna hijau lagi. Pada musim kemarau bisa timbul bercak bercak berwarna coklat pada daun; seluruh atau sebagian daun menjadi kering dan bahkan bisa gugur.

Dilapangan anda bisa menemukan pada kondisi tanah yang basah secara berlebihan ( Alkalis ) atau adanya tanah yang berkapur adalah indikasi utama ditemukannya gejala chlorosis yang disebabkan oleh kekurangan unsur Fe.

KEKURANGAN UNSUR SENG ( Zn )
Gejala kekurangn unsur Zn sangat berdampak pada tumbuhan berkayu dengan gejala yang berbeda. Berikut gejala kekurangn unsur Zn bagi tumbuhan :
1. Daun menjadi kecil kecil ( Little Leaf )
Daun mengalami salah bentuk menjadi mengecil dan menyempit, memucat ( Chlorosis ) pada puncak pertumbuhan baru dan membentuk pertumbuhan melingkar ( rosettle ) yang terjadi pada pucuk pucuk cabang tumbuhan Almond, Apokat, apel, anggur, peach dan plum; pengguguran daun juga bisa terjadi.
2. Rosettle 
Pada musim semi anak anak daun menjadi berwarna kekuning kuningan dan bila diraba terasa kasar. Pertumbuhan daun berikutnya menjadi kecil dan salah bentuk dengan ruas ruas pendek pada ranting hingga membentuk rosettle. Pada musim panas terjadi bercak bercak dan dan sel selnya mengalami kematian. Tetapi sangat jarang yang menyebabkan tumbuhan mati.
3. Daun belang belang ( mottle leaf )
Untuk tumbuhan golongan Sitrus seringkali timbul gerjala membentuk daun daun kecil , sempit dan lurus keatas dengan warna kuning diantara tulang tulang daun. Sifat pohon bisa berubah menjadi sifat semak.

KEKURANGAN UNSUR MANGAN (Mn )
Kekurangan Mn mirip sekali seperti kekurangan Fe hanya saja pada tulang tulang daun tetap berwarna hijau bahkan pada daerah tepi daun juga berwarna hijau.

KEKURANGAN UNSUR MAGNESIUM ( Mg )
Gejala chlorosis seperti pada kekurangan unsur Fe hanya saja warna hijau masih ada di tepi tepi daun terutama pada jenis jenis sayur mayur. Pada tanaman Citrus terdapat warna hijau seperti huruf V pada daerah pangkal daun., sedangkan daerah daerah lainnya berwarna kuning.

KEKURANGAN UNSUR BORIUM ( B )
Tumbuhan membutuhkan unsur B dalam jumla yang sangat sedikit, tetapi jika kekurangan unsur B akan berdampak dan timbul gejala yang bermacam macam tergantung jenis tumbuhannnya. 
Umbi umbian : Gejala kerdil dan terdapat lubang / bercak bercak pada umbi yang berwarna hitam . Pada daun seladri timbul bercak warna hitam.
Buah buahan : Apel ----> menunjukkan bercak bercak bergabus didalam dan diluar jaringan, mati ranting ( die back ) dan rosette; Pada buah Pear ----- > gejala mati ranting ( die back ) dan bercak bercak pada bunga. Tumbuhan menunjukkan gejala kerdil, percabangan berlebihan dan mati jaringan ( necrosis ) bagian dalam.
Retak Batang : pada tanaman seladri dan rhubarb membentuk celah celah dan garis garais tak teratur berwarna coklat, dan anak anak seladri mempunyai bercak bercak coklat. Banyak jenis tumbuhan yang sangat peka terhadap kekurangn unsur B.

KEKURANGAN UNSUR TEMBAGA ( Cu )
Gejala : Mati ranting ( die back ). Mula mula daun berwarna hijau gelap dan berukuran besar. Ranting ranting berwarna coklat, kemudian mati dari pucuk ke bawah. Pada buah yang terbentuk berukuran kecil, berwarna coklat dengan kantong kantong gum pada buah ( untuk jenis tanaman Jeruk ).

KEKURANGAN UNSUR Calsium ( Ca )
Unsur Ca berfungsi sebagai penyusun lamella tengah (Ca-pektat), jika tanaman kekahatan Ca maka pertumbuhan terhambat, kerusakan terlihat pada titik tumbuh karena pembelahan sel terhenti.

Terjadinya GejalaGejala defisiensi unsur hara pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi 
(1). Kegagalan tanaman secara lengkap pada fase kecambah,
(2). Pertumbuhan tanaman sangat kerdil; 
(3). Munculnya gejala spesifikpada daun selama periode waktu yang berbeda-beda dalam musimpertumbuhan; 
(4). Abnormalitas internal, seperti tersumbatnya jaringanpembuluh; 
(5). Penangguhan kemasakan atau kemasakan tidak normal;
(6). Perbedaan hasil, dengan atau tanpa gejala pada daun; 
(7). Kualitas tanaman yang buruk, termasuk penyimpangan komposisi kimia,seperti kadar protein, minyak, pati, daya awet atau daya simpan; 
(8).Perbedaan hasil yang hanya dapat dideteksi melalui percobaan yang serius .Disamping itu, defisiensi unsur hara juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan tipe pertumbuhan perakaran tanaman.

Defisiensi unsur hara tidak secara langsung menimbulkan gejala defisiensi. Kalau terjadi kekurangan unsur hara maka proses-proses metabolisme tanaman yang normal menjadi tidak seimbang, sehingga terjadi akumulasi senyawa organik tertentu dan kekurangan yang lainnya. Hal ini mengakibatkan kondisi tidak normal yang dikena sebagai 'gejala' dan mempunyai hubungan yang definit dengan kekurangan unsur hara. Misalnya, persenyawaan diamine-putrescine terbentuk dalam beberapa tanaman yang kekurangan kalium dan menyebabkan gejala-gejala yang khas. Sebenarnya tanaman yang kecukupan kalium juga akan menunjukkan gejala yang sama kalau diinjeksi dengan senyawa ini. Setiap 'gejala defisiensi' mesti berhubungan dengan beberapa fungsi metabolis dari unsur hara yang bersangkutan. Akan tetapi suatu unsur hara bisa mempunyai beberapa fungsi metabolis, dan hal ini menimbulkan kesulitan dalam menjelaskan alasan fisiologis untuk menerangkan terjadinya gejala defisiensi. Misalnya, kalau terjadi defisiensi nitrogen, daun-daun tanaman akan cenderung menjadi berwarna hijau pucat atau kuning terang. Kalau kuantitas nitrogen terbatas, produksi khlorofil akan direduksi, dan pigmen kuning seperti karotin dan xantofil akan muncul. Akan tetapi gejala defisiensi unsur hara tertentu lainnya juga dapat berupa daun-daun yang pucat atau kekuningan, dan kesulitan juga akan dihadapi sehubungan dengan pola lokasi dan posisi daun dalam tanaman. Defisiensi sebenarnya bersifat relatif, dan gejala defisiensi suatu unsur hara akan menyatakan kekurangan atau kelebihannya unsur yang lain. Misalnya defisiensi Mn dapat dipacu oleh penambahan banyak Fe, asalkan ketersediaan Mn berada di sekitar tingkat kritis. Disamping itu, suplai hara yang cukup pada suatu kondisi bisa menjadidefisien kalau unsur lainnya menjadi berlebihan. Pada kondisi suplai nitrogen yang terbatas mungkin tanaman jagung tidak memerlukanbanyak fosfor, tetapi kalau suplai nitrogen ditingkatkan maka ketersediaan fosfor bisa menjadi kritis. Dengan kata lain, kalau faktor pembatas pertama dieliminir maka akan segera muncul faktor pembatas ke dua berikutnya.

Di lapangan seringkali sulit untuk dapat membedakan di antara gejala-gejala defisiensi unsur hara. Tidak jarang bahwa gangguan hama dan penyakit menyerupai defisiensi unsur hara mikro tertentu. Misalnya gangguan oleh belalang daun dengan defisiensi boron padatanaman alfalfa. Defisiensi boron diikuti oleh kolorasi merah pada daundi dekat titik tumbuh kalau tanaman mendapatkan cukup kalium. Sebaliknya kalau suplai kalium terbatas maka daun-daun tanaman alfalfa akan menguning. Suatu gejala mungkin juga merupakan efek sekunder dan dapat pula diakibatkan oleh lebih dari satu macam penyebab. Misalnya, gula yang terakumulasi dalam tanaman jagung dapat berkombinasi dengan flavon membentuk anthosianin (pigmen ungu, merah dan kuning). Akumulasi gula tersebut dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti kurang suplai fosfor, suhu malam yang rendah dan suhu udara siang-hari yang panas, gangguan hama pada akar, defisiensi nitrogen,atau sebab lainnya. Gejala defisiensi unsur hara sebagai sarana untuk mengevaluasi kesuburan tanah dapat diibaratkan sebagai "menutup pintu kandang setelah kudanya lepas".Gejala defisiensi hanya muncul setelah suplai unsur harabegitu rendah sehingga tanaman tidak dapat lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam kasus seperti ini maka pupuk akan lebih menguntungkan kalau diberikan jauh sebelum gejala defisiensi muncul. Kalau gejala defisiensi diamati lebih awal maka ia dapat dikoreksi selama musim pertumbuhan tanaman. Hal seperti ini dapat terjadi dalam hal nitrogen, kalium, dan beberapa macam unsur mikro. Memang tujuan utamanya ialah memberikan unsur yang kekurangan ke tanaman secepat mugkin. Hal ini pada kondisi tertentu dapat dilakukan dengan melalui penyemprotan daun, atau penugalan pupuk disekitar akar. Biasanya hasil tanaman masih akan lebih rendahdibandingkan dengan kalau suplai unsur hara kecukupan sejak awaltanam.

Kelaparan tersembunyi' ("hidden hunger") menyatakan situasi dimana tanaman memerlukan lebih banyak unsur hara tertentu, meskipun belum menunjukkan gejala defisiensi tertentu .Kadar unsur hara masih di atas zone defisiensi tetapi berada di bawah batas yang diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan dan produksi tanaman yang paling menguntungkan dalam sistem pertanian yang berorientasi kepada keuntunganmaka para petani akan berupaya untuk menghindari defisiensi tanamannya. Akan tetapi ia mungkin tidak menambahkan cukup banyak unsur hara untuk mendapatkan hasil yang paling menguntungkan.Dalam banyak hal, respon yang signifikan dapat diperoleh meskipun tidak diketahui adanya gejala defisiensi. Dalam fase-fase permulaan dari penggunaan suatu unsur hara disuatu area, gejala defisiensi mengarahkan kepada pengenalan bahaya.Akan tetapi kalau penggunaan unsur hara harus ditingkatkan untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi, maka gejala defisiensi menjadi kurang penting dan dapat dikelompokkan sebagai masalah bagi petani marjinal. Permasalahan yang kemudian dihadapi adalah bagaimana cara terbaik untuk mengeliminir kelaparan tersembunyi. Uji tanaman akan membantu ke arah perencanaan program pemupukan tahun berikutnya, dan uji tanah akan membantu mengeliminir problem tanaman yang sedang tumbuh. Dalam kedua macam pendekatan ini harus senantiasa diperhatikan praktek pengelolaan sebelumnya.

Efek-efek Musiman
Kekurangan unsur hara dalam tanah dapat diperparah olehkondisi cuaca yang tidak normal. Unsur hara dapat tersedia dalam jumlah yang cukup pada kondisi ideal, tetapi dalam kondisi kekeringan,kelebihan air, atau suhu yang ekstrim tanaman mungkin tidak mampu menyerap dalam jumlah yang cukup. Misalnya pada suhu dingin akanlebih sedikit N, P, dan K yang dapat diserap oleh tanaman tomat

Demikian juga, stress air akan mempengaruhi serapan hara. Kalau stress air semakin parah maka konsentrasi NPK pada daun jagung menurun . Pemupukan akan mampu mengurangi efek buruk stress air, tetapi konsentrasinya masih di bawah optimum dalam periode stress. Dalam rangka untuk mengeliminir faktor pembatas unsur hara maka kadar unsur hara tanaman harus ditingkatkan hingga batas aman dan bukan hanya sampai optimum ekonomis . Memupuk hingga taraf ini akan membantu memanfaatkan kondisi musim yang baik dan mensisakan unsur hara dalam tanah untuk dimanfaatkan oleh tanaman berikutnya

Analisa Jaringan Tanaman
Ada dua tipe analisis tanaman yang telah sering digunakan. Tipe pertama adalah uji jaringan dengan menggunakan bahan jaringan segar di lapangan, dan tipe ke dua adalah analisis total yang dilakukan di laboratorium dengan teknik-teknik analisis yang lebih teliti. Analisis tanaman mempunyai keuntungan pokok yaitu bahwa ia mengintegrasikan pengaruh tanah, tanaman, iklim dan peubah-peubah pengelolaan. Dengan cara ini maka hasil analisis tanaman dipandang sebagai ukuran akhir dari ketersediaan unsur hara. Akan tetapi kelemahan yang pokok dari cara ini adalah berkaitan dengan "waktu",seringkali sudah terlambat untuk menyembuhkan kekurangan hara tanpa mengalami kehilangan hasil. Lazimnya analisis tanaman digunakan untuk tiga maksud penting, yaitu 
(i) identifikasi problematik unsur hara tanaman dan mengkuantifikasikan koreksinya melalui penetapan tingkat kritis unsur hara, 
(ii) menghitung nilai serapan hara untuk menunjang program pemupukan, dan 
(iii) memonitor status hara tanaman permanen, atau yang secara praktis disebut "crop logging". Analisis tanaman didasarkan atas anggapan bahwa jumlah unsur hara dalam tanaman merupakan indikasi suplai unsur hara tertentu dan dengan demikian secara langsung berhubungan dengan kuantitas dalam tanah. Karena kekurangan unsur hara akan membatasi pertumbuhan tanaman, maka unsur hara lainnya dapat terakumulasi dalam cairan sel dan menunjukkan nilai uji yang tinggi, tanpa memperhatikan suplainya. Misalnya kalau jaringan tanaman jagung miskin nitrat maka uji fosfor bisa menunjukkan nilai yang tinggi. Akan tetapi hal ini bukan merupakan indikasi bahwa kalau cukup nitrogendiberikan ke tanaman jagung berarti suplai fosfor juga akan mencukupi. Tingkat kritis telah berhasil diidentifikasikan untuk berapa unsur hara dalam berbagai jenis tanaman. Banyak definisi tentang tingkat kritis telah diusulkan, tetapi salah satu definisi yang bermanfaat bagi petani ialah "kadar unsur hara di bawah mana hasil tanaman atau penampilannya menurun di bawah optimum". Akan tetapi pada kenyataannya agak sulit memilih taraf yang spesifik karena kadar unsur hara lainnya dalam tanaman dapat mempengaruhi tingkat kritis sesuatu unsur hara. Pada tanaman jagung ternyata tingkat kritis N, P atau K ternyata mempunyai kisaran yang agak luas, tergantung pada keseimbangan unsur hara lainnya dan taraf hasil yang diinginkan.Tingkat kritis boron akan lebih tinggi kalau kadar kalsium tanam,an sangat tinggi.

Serapan hara sebagai sarana penduga
Kekurang-akuratan uji tanah untuk menangani problematik nitrogen telah mendorong berkembangnya pendekatan lain dalam mengestimasi dosis pupuk nitrogen. Bartholomew (1972) mengungkapkan adanya hubungan yang konstan antara hasil biji serealia dengan total serapan nitrogennya (termasuk serapan akar). Hubungan seperti ini pada tanaman jagung, gandum dan padi . Slope dari kurva-kurva gambar ini menunjukkan bahwarata-rata kenaikan hasil jagung dan padi untuk setiap tambahan 1 kg nitrogen adalah 30-35 kg biji, sedangkan gandum hanya 15-20 kg.Kalau diketahui hasil tanaman tanpa pupuk (hasil ambang) dan batas hasil konstan maksimum, maka dengan bantuan grafik ini dapat ditentukan jumlah pupuk nitrogen yang diperlukan untuk meningkatkan hasil tanaman hingga mencapai maksimumnya.

Analisis Total
Analisis total dilakukan pada keseluruhan tanaman atau pada bagian-bagian tanaman. Teknik-teknik analisis yang tepat digunakan pengukuran berbagai unsur setelah material tanaman dikeringkan,dihaluskan, dan diabukan. Spektrograf dapat menentukan beberapa unsur secara simultan dan "Atomic Absorption" menjadi semakin penting. Dengan menggunakan metode kuantitatif seperti itu dapat dideteksi perbedaan - perbedaan yang lebih kecil dibandingkan dengan uji jaringan tanaman. Unsur hara yang telah diasimilasikan dan yang belum diasimilasikan dapat dideteksi. Dengan teknik analisis total inidapat diukur berbagai macam unsur hara seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Mn,Fe, Zn, Cu, B, Mo, Co, Si, dan Al. Ada beberapa informasi yang menyatakan bahwa ada beberapa jenis tanaman tertentu ternyata hubungan antara kadar kalium pada daun di bagian bawah dengan kadar kalium dalam daun di bagian atas merupakan indikasi defisiensi atau kecukupan. Kalau kadar kalium pada daun bagian bawah lebih rendah dari kadar kalium pada daun dibagian atas maka tanaman defisiensi kalium. Akan tetapi kalau kadar kalium daun di bagian bawah sama atau lebih besar maka tanaman tidak defisiensi kalium.Untuk maksud-maksud tertentu ternyata uji jaringan tanaman yang berwarna hijau ternyata lebih bermanfaat daripada analisis total. Misalnya kalau suplai unsur hara dalam keadaan baru saja kekurangan, maka masalah ini akan lebih mudah diketahui dengan uji jaringan. Akan tetapi uji jaringan dan analisis total telah lazim digunakan denganberhasil untuk melacak status hara tanaman selama musimpertumbuhannya.

 

Salam,
 
Dwi Hartoyo, SP

REFERENSI
1. http://erec.ifas.ufl.edu/plant_pathology_guidelines/module_01.shtml
2. http://www.appsnet.org/Publications/Kerruish/PP4.pdf
3.http://ag.arizona.edu/pubs/diseases/az1124/ 
4. http://detialiptina.blogspot.com/2011/04/tujuan-mendiagnosis-penyakit-tanaman.html
5. http://nasih.wordpress.com/category/evaluasi-kesuburan-tanah/
6. http://www.scribd.com/doc/44693840/Uji-Tanah-Untuk-Mendukung-Produksi-Tanaman
7. http://mursitoledi.multiply.com/journal/item/1/jurnalilmu_kesuburan_tanah?&show_interstitial=1&u=/journal/item